Postingan Populer

Jumat, 09 Agustus 2019

Karomah Mbah Maimoen




Di Langsir dari BANGSAONLINE.COM


Dr. KH. Fadlolan Musyaffa’, alumnus Univesitas Al-Azhar Kairo Mesir ini selalu jadi khaddam (pelayan) setiap KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) ke Mesir. Sekretaris MUI Jawa Tengah dan pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Jawa Tengah itu mengaku banyak punya kenangan saat bersama ulama kharismatik yang wafat di Makkah Arab Saudi itu. HARIAN BANGSA dan BANGSAONONLINE minta Kiai Fadlolan menuliskan pengalamannya agar pembaca juga mendapat tambahan pengetahuan tentang kiai yang dikenal alim dan kharismatik itu. 

Setidaknya tiga kali saya khidmah kepada KH. Maimoen Zubair, tiap ke Mesir. Dalam ziarah ke tiga 2005, beliau saya agendakan ziarah wisata ke Luxor dan Aswan didampingi Ibu Nyai Heni Maryam, saya bawa ke Airport Cairo. Saat di ruang boarding tiba-tiba beliau membisiki saya: “Mas Fadlolan, nanti kita ziarah ke Imam Syadzily ya…!!!” Ini permintaan yang sulit saya menjawab.

Dalam hati saya berkata tidak mungkin, karena tiket pesawat sudah saya beli PP Ciro-Luxor-Cairo, berangkat pukul 07.00 kembali pukul 20.00. Biasanya kalau ziarah kemakam Imam Syadzili, mesti nginap, karena perjalanan tidak cukup pulang-pergi sehari semalam. Jarak tempuh Cairo Luxor +- 900 km dengan pesawat terbang, Luxor Humaisarah perkampungan Imam Syadzili +-400 km dengan jalan darat. Jalan sepi tidak begitu baik aspalnya. Maklum bukan jalur wisata turis. Yang paling aneh jalur ini tidak ada fasilitas kehidupan (tidak ada listrik, air, sinyal telpon, pom bensin, toilet, warung, dan lain-lain. Tidak ada sama sekali).

Siapa Imam Syaikh Asy-Syadzili? Syekh Abul Hasan Asy- Syadzili, dikenal juga Imam Syadzili, lahir di Ghumarah, Maroko, 1197 - wafat Humaitsara, Mesir, 1258) adalah pendiri Tarekat Syadziliyah yang merupakan salah satu tarekat sufi terkemuka di dunia. Ia dipercayai oleh para pengikutnya sebagai salah seorang keturunan Nabi Muhammad, yang lahir di desa Ghumarah, dekat kota Sabtah, daerah Maghreb (sekarang termasuk wilayah Maroko, Afrika Utara) pada tahun 593 H/1197 M. Nasab atau garis keturunan Abul Hasan Asy-Syadzili bersambung sampai dengan Rasulullah SAW.

Saya ingin benar-benar khidmah kepada kiai saya, maka saya harus berkata: “Sendiko dawuh/njih siap kiai”. Pikiran saya masih terhantui tidak mungkin. Lalu saya telepon kawan saya orang Mesir yang siap menjemput kami di bandara Luxor.


“Ya ammi Fauzi, hal mumkin ziarah ila al Imam Syadzili?”

Dia jawab, “Mus mumkin/tidak mungkin”. Tapi saya mencoba meyakinkan dia berulang ulang, dan dia tetap menjawab tidak mungkin, karena dia sudah hafal ukuran kilometer perjalanan yang mesti nginap atau kalau langsung balik mesti ketinggalan pesawat dan nginap di Luxor.

Singkat cerita, saya harus berkata: Kita coba, jika bisa PP ya alhamdulillah, bila tidak bisa ya kita nginap di Luxor dan tiket pesawat kita hangus. Akhirnya si Fauzi menyetujui.

Sampai kami tiba di bandara Luxor pukul 08.00 lalu kami sarapan minum hangat sambil menunggu pintu gerbang Ma’bad Luxor atau Luxor Temple (Kuil tempat ibadah Firaun yang di Luxor) pukul 08.30 mulai masuk. Beliau sangat mengagumi peninggalan Firaun, Beliau sambil mengajari saya supaya senang sejarah peradaban, beliaulah pakarnya. Saking senangnya, beliau lalui dua lokasi Ma’bad Luxor sambil cerita ayat-ayat kauniyat dihubungkan dengan ayat-ayat al-Quran, sambil foto-foto, saya abadikan.

Saya sering mengingatkan beliau: jadi ke makam Imam Syadzili Mbah Yai? Beliau jawab: Hiya, Jadi…. Karena sudah pukul 10.30, namun saking asyiknya, beliau tidak terasa capek. Saya ingatkan ulang, dan beliau berkata: Njih monggo berangkat ke Imam Syadzili. Tepat pukul 11.00 beliau saya naikkan mobil sedan Daewoo yang sering saya rental sekalian sopirnya, lalu meluncur cepat menuju Edfo, 100 km perbatasan Luxor dengan padang pasir yang tidak ada fasilitas kehidupan.


Tiba di Edfo pukul 13.30, kami salat jamak taqdim, lalu makan siang di warung samping mushalla tersebut. Di sinilah kekeramatan KH. Maimoen Zubair, mulai dimunculkan: Seorang ibu pemilik warung makan, tiba-tiba keluar membawa air botol aqua besar, seraya berkata: “Ya Syekh, ud’u li zauji, wa hua maridh” / ”Ya Syekh, doakan suami saya, ia sedang sakit”.

Beliau langsung terima botolnya dan didoakan seperti biasa tamu-tamu di ndalem Sarang pada minta doa. Lalu beliau bertanya: “Aina zajak” / ”Dimana suamimu” lalu diajak ke kamarnya disuwuk dan diolesi air yang di botol tersebut.

Saat kami pamitan, mau bayar warung, sungguh saling menjaga wirai, maunya yang punya warung tidak mau dibayar, tapi si Mbah KH. Maimoen Zubair, harus dibayar. Di situlah kekeramatan beliau terbaca oleh kami semua, terutama sopir saya amu/Lik Fauzi mulai kagum dan semakin percaya membawa seorang alim allamah yang sakti ini.

Kami meninggalkan warung pukul 14.30 menuju Humaisarah yang jaraknya sekiatar 300 km. Pukul 17.00 kami tiba, lalu ambil wudlu dan ziarah. Kiai Maimoen Zubair membaca Hizb Nasr, tahlil singkat dan berdoa. Tepat pukul 17.45 matahari gelap. Kami segera meneruskan perjalanan kembali ke Luxor. Kekeramatan Syaikhona KH. Maimoen Zubair, tidak bisa ditutupi lagi, semakin jelas….

Beliau duduk sila di jok belakang bersama ibu Nyai Heni Maryam, wiridan. Saya di jok samping sopir. Melihat jam yang harusnya kami sudah tiba di bandara Luxoor pukul 18.30 (dulu belum ada check in online) tapi saya hanya berdoa semoga kebagian pesawat. Semakin semangat sopir Arab itu, lupa kalau mobilnya itu sedan Daewoo tua, kok diajak lari 150-160/km. Saya merasa ban mobil itu tidak nempel aspal. Ditambah jalannya pun tidak begitu baik. Tapi saya yakin yang saya bawa itu seorang waliyullah Syaikhona KH. Maimoen Zubair, semakin kencang wiridan semakin cepat….

Di tengah perjalanan itu kami hanya dibekali istri saya cemilan ringan dan lemper buatan malam hari, yang dengan panas matahari sampai sore harinya sudah tidak sehat lagi. Tapi Syaikhona KH. Maimoen Zubair, sangat arif dan mendidik saya untuk qonaah/neriman: “Ayu mas Fadlolan, kita makan lempernya buatan neng Fenti, …itu enak ya…, pinter masak ya istri mas Fadlolan,” katanya. Padahal beliau tahu istri saya itu tidak pintar masak.

Lalu saya bergegas harus menyiapkan makan malam. Beliau pasti butuh kamar kecil untuk bersuci dan jamak salat Maghrib dan Isyak. Maka saya telepun hotel dekat airport yang bisa menyiapkan makan malam siap santap dan bisa ke kamar kecil dan mushalla.

Perjalanan 400 kilometer sungguh terlipat waktunya hanya 2,5 jam (padahal setiap saya jalan ke sana bila tidak bersama Syaikhona KH. Maimoen Zubair, antar 7-9 jam). Namun pukul 19.00 kami tiba di Luxor di sebuah restoran hotel, lalu kami makan malam seafood dengan cepat. Beliau memberi saya uang 300 pound Mesir, standar umum makan berempat sudah cukup. Ternyata totalan kasir harganya 750 pound Mesir. Si Mbah Maimoen Zubair melihat kalau saya menambahi banyak.

“Mas Fadlolan kok nambah banyak…?” tanya beliau.

Saya jawab, “Tidak nambah Mbah,” kata saya.

“Lho saya lihat nambah kok…. “ katanya. Karena orang Arab Mesir biasa ngitung uang diangkat di depan mata dia, maka kelihatan dari jauh jumlah tambahannya lebih banyak.

Ringkas cerita, beliau mendesak pertanyaan:

“Berapa itu tadi mas..?,” tanya

Saya jawab, “750 pound Mbah…..”

Saking tidak ridlanya harga yang terlalu mahal, terucap kata-kata beliau “Laisa minna” /  “bukan golongan kita”.

Masyaallah, kami keluar dari restoran tersebut, tidak lama malam itu restoran terbakar bersama hotelnya, tidak bisa dipadamkan. Sopir saya menelepon saya: “Masyaallah kalumu Syaikh Maemun Khothiir, kalamuhu dua”/ (Omongannya Syaikh Maemun bahaya, omongannya itu doa”. “Al-funduk alladzi na’kul fih mahruq lam yathfihi”/”Hotel yang kita buat makan tadi terbakar tidak bisa dipadamkan”.

Sebelum sampai restoran, saya sempatkan telepon kawan inteligen wilayah Luxor untuk menunda pesawat terbang yang akan kami tumpangi, karena saya membawa seorang ulama besar dari Indonesia Syekh Maemun Zubair. Telat sekitar 30-45 menit, kami sudah dekat airport namun mau ke kamar kecil dan makan malam terlebih dahulu. Alhamdulillah pesawat didelay 30 menit. Perjalanan terlipat jauh lebih cepat, kami masuk airport tidak usah check in, langsung disambut kawan-kawan mabahist dauli (inteligen Negara Mesir) langsung dikasih boarding pass kami dan masuk pesawat tanpa urusan.


Begitu masuk pesawat, langsung pintu ditutup dan terbang. Orang Mesir dan turis lain, tertahan 30 menit di dalam pesawat. Begitu melihat kami orang Indonesia yang menyebabkan mereka di-delay, lalu pada nyeletuk: Ya Andunisi/Hai orang Indonesia…!!! Saking capeknya, saya ngantuk, tapi Syaikhona Maemun Zubair memegangi tangan saya sepanjang perjalanan, dan sering dililing wajah saya seraya berkata: Mas Fadlolan tadi naik apa…? Saya jawab: "Naik Burok, Mbah". Beliau jawab: Hiya betul…betul…betul… mas Fadlolan.

Setibanya di Cairo, saya antar beliau istirahat, lalu pagi harinya saya bawakan Koran. Terdapat foto berita hotel yang tempat kami makan tadi malam terbakar tidak bisa dipadamkan, akibat dingendikani: “laisa minna”. Itulah orang alim dan pengasih.

Saya curi pandang wajah beliau, ternyata air mata mengalir di pipinya, menangis tanda menyesali ucapan beliau yang menjadi doa kesedihan orang lain. Inilah waliyullah yang arif dan penyayang semua makhluk. Perjalanan ini tidak pernah bisa saya ulang seumur hidup ini.

Cerita ini sering disampaikan pada tamu-tamu yang sowan di ndalem Sarang, dan juga dalam banyak pengajian. Saat itu saya masih tinggal di Cairo Mesir. Banyak yang mendengar cerita ini, dan baru ketemu saya, sering ketemu orang yang kenalan, lalu tiba-tiba dia berkata: Oh ini tah yang namanya Fadlolan, yang sering diceritakan Syaikh Maemun Zubair.

Saya bersyukur bisa khidmah beliau, dan banyak kenangan yang spesial diberikan kepada saya, dari diberikan seorang istri, sering diberikan ijazah khusus, dan sampai dua kali datang mendoakan pesantren “Fadhlul Fadhlan”. Perintah dan ridlo beliau pesantren ini terwujud, dan berkat doa beliaulah pesantren ini cepat berkembang.

Engkaulah guru mursyidku dan orang tuaku yang makrifat mengetahui banyak hal yang sedang dan terencana akan saya laksanakan. Terkadang saya sendiri tidak tahu, dan engkau memberikan isyarat lewat mimpi maupun lewat utusan santri yang selalu membawa pesan amanat langsung datang menghampiri kediamanku. Dari sini lah beliau selalu membekali ijazah doa-doa untuk bekal berjuang di dalam negeri ini….

Cita-citamu ingin wafat di Makkah, sehingga tiap tahun selalu naik haji. Dan kini Allah kabulkan. Harapanmu ingin wafat hari Selasa, sebagaimana ulama-ulama besar, kini Engkau wafat hari Selasa. Saya sedih kau tinggalkan, tapi demi cita-citamu ketemu Allah di hari dan tempat yang dicita-citakan, saya turut bahagia.

Semoga Syaikhona Maemun Zubair, ditempatkan disisi Allah SWT, sorga Firdaus dan selalu memberkahi kita, sekalipun semayam di Ma’la Makkah al-Mukarromah, pada hari ini pukul 04,00 waktu Makkah, Selasa, 6 Agustus 2019/5 Dzul Hijjah 1440 H. tapi selalu berama dengan kami. Fatihahku selalu mengiringimu ya Syaikhona Maemun Zubair.

Kisah Gus Ishom Dan Mbah Moen


2 orang dalam foto ini, adalah orang-orang istimewa yang proses menjelang kelahirannya mirip dan luar biasa.
1. Gus Ishom Hadzik, lahir di Kediri di rumah sakit dr. Djohar. Ketika menjelang kelahirannya, sang ayah sowan kepada Kiai Majid Kedunglo. Tak tanggung2, Kiai Majid Kedunglo bahkan menyempatkan datang sendiri ke rumah sakit. Selain memberikan doa, beliau juga memberikan segelas air yang kelak akan membawa keberkahan bagi sang jabang bayi.
Setelah sowan kepada Kiai Majid, sang ayah sowan kepada sang guru,  Kiai Mahrus Ali Lirboyo. Mendengar sang istri muridnya hendak melahirkan, Kiai Mahrus bergegas menuju rumah sakit. Disana, lagi2 sang calon jabang bayi mendapat segelas air keberkahan dan segunung doa. Tepat tanggal 18 Juli 1965, sang bayi lahir dan oleh Kiai Mahrus Ali diberi nama Ishomuddin.
Tidak hanya keberkahan doa, mulut dari Gus Ishom, pernah diludahi oleh 2 orang kekasih Allah yaitu Kiai Idris Kamali, menantu Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari dan Kiai Mahrus Ali. Tepat hari Sabtu, 26 Juli 2003, Gus Ishom menghadap sang Ilahi Robby. Alampun berduka dgn turunnya hujan ketika talqin dibaca dipemakaman keluarga komplek PP. Tebuireng Jombang dan hujan berhenti ketika talqin selesai dibaca.
2. Mbah Maimun. Ketika beliau menyampaikan kepada Saya bahwa menjelang kelahirannya sempat ditunggui oleh Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari beserta para muassis NU lainnya, saya meyakini bahwa diantara ribuan keberkahan yang ada pada beliau adalah air yang diludahi oleh para Kiai yang luar biasa.
Maka, Mbah Maimun yang lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa karena sejak awal menjelang kelahirannya telah mengalami proses yang luar biasa. Bahkan ketika  meninggal di Mekkah, 6 Agustus 2019 dan dimakamkan di Ma'la, alampun berduka dengan hujan gerimis.
Selamat jalan untuk Panjenengan berdua.

#pesantrenku

Rabu, 07 Agustus 2019

Ulama Nusantara yang dimakamkan di Jannatul Ma'la Makkah Al-Mukarromah


Ulama Nusantara yang dimakamkan di Jannatul Ma'la Makkah Al-Mukarromah, antara lain:

1. Syaikh Nawawi bin Umar al-Bantani (w. 25 Syawal 1314 H/ 29  Maret 1879 M.) 
2. Syaikh Ahmad Khatib al-Minkabawi (w. 19 Jumadil Awwal 1334 H/ 13 Maret 1916 M.)
3. Syaikh Mahfudz al-Tarmasi (w. 1 Rajab 1338 H/ 22 Maret 1920 M.) 
4. Syaikh Abdul Hamid al-Qudsi (w.  9 Rajab 1334 H/ 12 Mei 1915 M.) 
5. Syaikh Ahmad Nahrawi al-Banyumasi (w.  1926 M). 
6. Syaikh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa (w. 10 Jumadis Tsani 1354 H/ 28 September 1935 M.) 
7. Syaikh Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi (w. 1376 H/ 1956 M.) 
8. Syaikh Ali bin Abdullah al-Banjari (w. 1370 H/ 1950 M.) 
9. Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Padani (w. 28 Dzulhijjah 1440 H/ 23 Juli 1990 M.) 
10. Syaikh Abdul Qadir al-Mandaili (w. 20 Rabi'ul Akhir  1385 H/ 18 Agustus 1965 M.) 
11. KH. Abdul Karim bin KH. M. Hasyim Asy'ari (w. 1972 M.) 
12. Syaikh Abdullah Durdum al-Padani (w. 27 Sya'ban 1407 H./ 27 April 1987 M.) 
13. Syaikh Abdul Fattah Rawa (w. 1424 H/ 2003 M.)
14. KH. Maimoen Zubair (w. 5 Dzulhijjah 1440 H. / 6 Agustus 2019 M.)
15.KH.Masyhuri AlQudsy

اللهم امتنا في طريقتهم واحشرنا في زمرتهم والحقنا بهم في دار النعيم. امين..

Dawuh Kyai-Kyai sepuh akan keshalehan dan kewalian Mbah Moen (KH. Maimun Zubair)

    PAGI menjelang siang, di Pondok Pesantren Al Hidayat, Lasem Rembang, sekitar tahun 1950. Para Kiai berkumpul di ruang tamu ndalem Mbah Ma'shum, sang pengasuh, untuk suatu acara. Seperti umumnya, para Kiai saling beramah tamah.

"Putra Kiai Zubair Sarang datang dari Mekkah", seorang Kiai mengabarkan kepada segenap tamu. Ramah tamah yang awalnya "biasa-biasa saja" seperti berubah menjadi sesuatu yang luar biasa.

"Siapa namanya?", Mbah Ma'shum bertanya. Beliau perlu bertanya sebab orang yang dibicarakan belum masuk lingkaran Kiai khos di lingkungan Mbah Ma'shum--yang saat itu telah berusia 80 tahun.

"Gus Maimun...", Kiai pemberi kabar menjawab.

    Para Kiai di ndalem itu, sebenarnya, masih banyak yang belum mengenal putra Mbah Zubair yang bernama Gus Maimun itu. Akan tetapi, ... setelah hening beberapa waktu, ada respon ...........

"Dia orang 'alim...", Mbah Ma'shum memuji.

"Dia seorang faqih...", Kiai lain memujinya.

"Dia seorang sufi...", ungkap Kiai lainnya lagi.

    Para Kiai secara bergantian terus memuji Gus Maimun itu, seolah pernah berguru kepadanya, atau berteman. Masing-masing Kiai, yang semuanya keramat, menyebutkan sifat, karakter serta kelebihan seorang Gus Maimun--dan beliau semuanya manggut-manggut. Seperti ada kesepakatan batin.

    Setelah masing-masing Kiai menyampaikan ungkapannya, hening sebentar. Lalu...

    Kiai Hamid Pasuruan, yang hadir di ndalem Mbah Ma'shum, menutup pujian-pujian para Kiai atas Gus Maimun itu dengan kalimat berbahasa Arab ;

انّه ذكيّ عالم صالح مفسّر محدّث فقيه صوفيّ وليّ من أولياء الله....

    Pernyataan pujian Kiai Hamid di atas, yang diungkapkan hampir 70 tahun lalu, adalah yang paling valid mengenai Gus Maimun alias Simbah Maimun Zubair. Ringkasan dari ungkapan Kiai Hamid Pasuruan tadi, kurang-lebihnya, "Simbah Maimun Zubair adalah Maha Kiai".

Kini, sang Maha Kiai telah meninggalkan kita.

إنا لله و إنا إليه راجعون. اللهم اغفر له و ارحمه و عافه و اعف عنه.

Selamat jalan, Maha Kiai Simbah Maimun Zubair, mohon doanya semoga kami bisa melaksanakan pesan dan nasehatmu...

سعدنا في الدنيا * فوزنا في الأخرى
بخديجة الكبرى * وفاطمة الزهرا

يا أهيل المعروف* والعطاء المألوف
غارة للملهوف * إنكم به أدرى

Sarang, 6 Agustus 2019

________________
الرواية بالمعنى من الوالد

KH.Maimoen Zubair:Kyai Kharismatik Nasionalis dan Rendah Hati

KH.Maimoen Zubair

     KH H Maimun Zubair, kadang ditulis menggunakan ejaan lama Maimoen Zoebair, (lahir di Rembang, 28 oktober 1928 – meninggal di Mekkah, 6 Agustus 2019 pada umur 90 tahun), atau akrab dipanggil Mbah Moen, adalah seorang ulama dan politikus Indonesia. Ia Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang,Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah PPP hingga ia wafat. Ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tapi rupanya tenaga dan pikiran ia masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.

Putra Kyai

KH Maimun Zubair mendapat bekal pendidikan agama dari ayahnya yang juga seorang Kyai yakni Kyai Zubair.

Mbah Moen dilahirkan di Karang Mangu Sarang hari Kamis Legi bulan Sya'ban tahun 1347 H atau 1348H atau 28 Oktober 1928.

Ayah Mbah Moen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.

Dua ulama yang kesohor pada saat itu.

Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat.

Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.

Pada umur 25 tahun, beliau menikah dan selanjutnya menjadi kepala pasar Sarang selama 10 tahun.

Riwayat Pendidikan KH. Maimun Zubair

Setelah mengaji dan mendalami ilmu agama dari Ayahnya, kemudian KH Maimun Zubair meneruskan mondoknya di Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Mahrus Ali dan KH Marzuki Dahlan.

Tidak hanya di Indonesia, KH. Maimun Zubair kemudian melanjutkan kelana ilmunya di Makkah Mukarromah pada usia 21 tahun.

Ketika melakukan perjalanan ke Mekkah ini, Mbah Moen ditemani oleh kakeknya sendiri yaitu KH. Ahmad bin Syuaib.

Di Mekkah, KH. Maimun Zubair banyak mengaji kepada ulama-ulama besar seperti Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan ulama-ulama lainnya.

Meski sedang mencari ilmu di Mekkah, namun Mbah Moen menyempatkan untuk menuntut ilmu kepada Ulama Jawa yang berada di Mekkah seperti Kiai Baidhowi, Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban) dan beberapa Ulama lainnya.

Dalam catatan sejarah hidupnya, KH Maimun Zubair tidak hanya mengabdikan diri pada agama saja.

Namun beliau juga adalah seorang yang sangat aktif di berbagai bidang sebagai pengabdian beliau kepada negara.

KH Maimun Zubair pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun.

Selain itu Mbah Moen juga pernah menjadi anggota MPR RI yang mewakili daerah Jawa Tengah selama 3 periode.

Kini, beliau masih aktif sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP), hingga wafat di Mekkah.

Wafat Di Mekkah

Baca juga: KH. Maimoen Zubair wafat

Tokoh Nahdlatul Ulama dan Kiai karismatik KH Maimun Zubair atau akrab disapa Mbah Moen wafat di Mekkah, saat melakukan rangkaian ibadah haji pada Selasa (6/8/2019).

KH.MAIMOEN ZUBAIR WAFAT



Kemarin Selasa,5 Dzulhijjah/6 Agustus 2019 pukul 04.17 waktu Arab Saudi, Guru kita KH.Maimoen Zubair
Wafat,di RS Annur Arab Saudi. Dan kemudian,dishalatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan di Ma'la dimana disitu juga maqbaroh sayyidah khadijah,dan putra-putra nabi,shahabat nabi,dan para Ulama' seperti Syech Nawawi AlBantani,Sayyid Alawi AlMaliki Alhasani,dan Sayyid Muhammad Alawy AlMaliki
Semoga Beliau ditempatkan bersama Orang-orang baik,dilapangkan kuburnya,dan semoga kita di anggap Santri Oleh beliau,sehingga nanti,insya Allah kita akan ditempatkan di surga oleh Allah SWT
AL-FATIHAH....

Jumat, 02 Agustus 2019

SULTAN MAHMUD JEJERUK DI LASEM


    Diceritakan,ketika itu Sultan Mahmud beserta para bala tentaranya terombang ambing di tengah Samudera. Semakin lama ombak semakin besar menerjang kapal Sultan dan pengikutnya. Kapal pecah setelah membentur karang, seluruh barang bawaan terhanyut oleh gelombang yang datang. Tinggal Sultan Mahmud dan pengawal setianya yang bertumpu di kayu sisa pecahan kapalnya.

    Potongan kayu sisa pecahan kapal yang dibuat pegangan berdua dengan sang patih akhirnya menepi di sebuah pantai dekat perbukitan. Tak berapa lama didera kebingungan ada seorang pencari ikan yang melintas. Dipundak lelaki tersebut ada kepis (wadah ikan dari bambu anyam). Lalu kepada lelaki itu Sultan Mahmud bertanya.

    "Ini adalah kawasan bukit Bonang. Di atas sana ada seorang lelaki yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Bonang..." belum selesai lelaki pencari ikan itu bicara Sultan Mahmud menyela. "Kisanak antarkan aku ke Sunan Bonang sekarang juga," pintanya tergesa.

Lalu Sultan Mahmud diantar oleh lelaki itu ke sebuah gubug di puncak bukit. Ada ragu di dalam hatinya melihat gubug yang tak layak untuk seorang yang terkenal macam Sunan Bonang. Lama tercenung melihat gubug itu namun ketika hendak bertanya kepada pencari ikan yang mengantarnya, ternyata lelaki itu telah pergi.

Saat keraguan itu semakin mendera hatinya, Sultan berniat kembali ke pantai mencari lelaki pencari ikan yang tadi mengantarnya. Untuk mengucapkan terimakasih dan memastikan apakah gubug tersebut adalah rumah tinggal Sunan Bonang. Ketika hendak berbalik tiba-tiba sebuah suara muncul dari dalam rumah. "Sultan Mahmud, jika kau hendak mencari kebenaran akulah Sunan Bonang. Namun jika engkau hendak mencari kemewahan kembalilah ke Minangkabau di kerajaanmu!". Sultan Mahmud terhenyak mendengar suara itu.

Lebih heran lagi, ketika sultan Mahmud masuk ke dalam gubug yang dianggap tak layak tersebut. Saat kaki kanannya masuk ke dalam rumah dadanya bergetar hebat. Seperti ada kegelisahan yang entah dia sendiri tak mampu menggambarkannya. Getaran hebat itu menuntunnya pada sebuah kedamaian yang tak pernah dirasakannya selama ini. Tiba-tiba air matanya meleleh, mengucur begitu deras. Merasakan bahwa dialah orang paling sombong di dunia ini. Sebuah titik kesadaran yang tiba-tiba saja merasuk ke sanubarinya. Entah datang dari mana.

Lelaki bersahaja keluar dari dalam rumah. Membawa kepis lalu disodorkan kepada sang Sultan. Sultan Mahmud hanya berfikir, bukankah kepis itu milik pencari ikan yang tadi mengantarnya ke gubug ini? "Benar Sultan. Ini adalah milik pencari ikan yang tadi mengantarmu. Akulah pencari ikan itu. Kini bukalah kepis ini, bukankah ini yang kau risaukan selama ini," ucap Sunan Bonang.

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, segera Sultan Mahmud membuka kepis yang disodorkan Sunan Bonang. Benar, ternyata kitab-kitab yang dibawanya dari Minangkabau. tadi telah dianggap hilang oleh Sultan ketika kapal pecah dihantam ombak. Hati Sultan Mahmud semakin yakin bahwa Sunan Bonanglah orang yang dia cari selama ini. Goncangan dadanya semakin kencang antara bahagia dan terharu bertemu sang Guru.

Hatinya menjerit bahagia. Meluruhkan syukur dan pengakuan kemaha besaran Allah, Tuhannya. Semakin deras air matanya mengucur membasahkan kegelisahan. Kegalauan yang menderanya selama ini.

"Benar kanjeng Sunan. Dan karena kitab-kitab inilah yang membuatku mengembara sejauh ini," ucap Sultan mahmud memulai cerita. Bahwa Sultan Mahmud mendapatkan hadiah dari Raja Minangkabu, ayahnya. Namun dia sendiri tidak mampu menafsirkan makna kitab-kitab miliknya. Kegelisahan semakin mendera hatinya dari hari ke hari. Hingga suatu ketika dia mendapatkan semcam perintah untuk pergi ke pulau jawa. "Hanya ulama di sana yang mampu mengajarkanmu makna terdalam dari hakikat hidup yang terkandung dalam kitab ini," kata suara tersebut.

Maka berlayarlah Sultan Mahmud bersama pasukannya menuju pulau jawa. Pertama mula dia sudah mendengar kehebatan Kasultanan Banten. Maka pelabuhan pertama saat dia berlayar adalah Kasultanan Banten. Namun Sultan Mahmud harus menahan kekecewaan. Karena para pujangga dan ulama-ulama di Kasultanan Banten tidak ada yang mampu memberi jawaban. Justru menyarankan Sultan untuk terus berlayar ke timur. "Di timur pulau jawa Sultan akan temukan orang yang tepat," ucap Sultan Banten kala itu.

Perjalanan dilanjutkan ke timur. Mendengar kehebatan orang-orang Cirebon akhirnya sang Sultan berhenti di Kasultanan Cirebon. Takjub sang Sultan melihat kesederhanaan masyarakat Cirebon. Kasultanan yang begitu damai menyambutnya sebagai keluarga. Namun kitab sang sultan tetap juga tak mampu dibabar di sana. Sama dengan Kesultanan Banten, Sultan Cirebon juga menyarankan Sultan mahmud untuk pergi ke timur.

"Hingga akhirnya saya terdampar dan kini menghadap kanjeng Sunan Bonang. Saya berharap Kanjeng Sunan sudi mengangkat saya menjadi murid dan mengajarkan saya tentang hakikat hidup yang terkandung dalam kitab ini," pinta Sultan Mahmud pada Sunan Bonang.

Sunan Bonang menerima Sultan Mahmud menjadi murid. Mengajarkan tentang kebenaran dan hakikat hidup. Menafsir terjemahkan makna yang terkandung dalam kitab pemberian ayah Sultan Mahmud. Terjawab sudah kegelisahan Sultan Mahmud selama ini. Merasakan anugerah maha besar karena dipertemukan kepada sang guru yang mampu membimbingnya. Menuntun kepada kebenaran dan hakikat kesadaran.

Telah cukup yang kau pelajari di bukit ini. Kita telah bersama mencecap kemahabesaran Tuhan. Kini yang terakhir permintaanku, ucap Sunan Bonang pada Sultan Mahmud. Kau mesti bertapa berdiri. Dipilihkan sebuah tempat di sebelah utara bukit tempat Sunan Bonang tinggal.

Sultan Mahmud memulakan tapanya. Keyakinan yang begitu dalam pada sang guru membuat Sultan Mahmud begitu ihlas dan patuh. Tidak ada kehendak untuk bertanya apalagi membantah perintah. Dalam hatinya hanyalah cinta dan kesetiaan pada sang guru yang telah membimbingnya. Karena baginya apapun yang dikatakan guru adalah kebenaran.

"Janganlah kau beranjak dari tempat ini sebelum aku kembali," ucap Sunan Bonang sembari menanam dua biji asam jawa di sebelah kanan dan kiri Sultan Mahmud berdiri. Sunan Bonang lalu kembali meneruskan kegiatannya dalam mengajar murid. Sedang Sultan Mahmud tetap berdiri dalam kepatuhan. Tapa Nggejejer (berdiri) dan theruk-theruk (berdiam). Kelak tampat tersebut terkenal dengan sebutan Jejeruk. Berawal dari kalimat Nggejejer dan Theruk-theruk, Berdiam dengan berdiri memohon dibukakan pintu mata dan hatinya. Mengikuti perintah sunan Bonang, sang guru.

Saat Sunan Bonang kembali pohon asam yang ditanam telah tumbuh besar. Sultan Mahmud masih berdiri di sana sebagaimana perintahnya. Gambaran kepatuhan seorang murid kepada guru sejatinya.

"Seberapa lama yang kau rasakan waktu ketika aku meninggalkanmu berdiri bertapa Sultan Mahmud?" tanya Sunan Bonang.
"Saya merasakan beberapa saat saja guru. Tidak dalam waktu yang cukup lama. Karena aku merasakan keindahan sebagaimana yang guru sampaikan. Bahwa saya tidak merasakan apapun kecuali Tuhan yang menggerakkan seluruh nadi hidup ini. Taka ada yang terdengar tak ada yang terasa kecuali kemahabesaran Tuhan semata. Namun sepertinya kanjeng Sunan meninggalkan saya antara waktu zuhur hingga asar. Tak lebih dari lima jam saya berdiri di sini," ucap Sultan Mahmud.

"Kini kembalilah kau ke Minangkabau. Seluruh rakyatmu telah menantimu di sana. Usai sudah proses perjalananmu. Kitab yang kau bawa telah kau temukan makna terdalamnya," pinta Sunan Bonang.

"Terimakasih atas titah Kanjeng Sunan. Bahwa kitab yang saya bawa telah sempurna memberikan ajaran kepada kita. Apabila diperbolehkan maka hamba ingin memohon satu hal. Bahwa Kerajaan beserta kemewahannya telah saya tinggalkan. Damai di sini bersama Kanjeng Sunan dalam pengabdian. Lalu apakah aku harus kembali menapaki hari-hari risau dalam gelimang kemewahan dunia. Sedang hatiku tidak lagi berada di sana. Telah nyawiji bersama alam ini dalam memuji. Maka perkenankanlah saya mengajak isteri saya untuk mencecap keindahan perjalanan di sini. Bahwa dunia telah berjalan sebagaimana adanya. Bahwa kerajaan telah terpimpin dengan adil oleh yang memegang amanah. Sebagai murid Bonang saya tidak mau menjadi raja yang dzolim. Raga di sana namun jiwa jauh berada di bukit ini bersama kanjeng Sunan," pinta Sultan Mahmud.

Dan permintaan itu disetujui oleh Sunan Bonang. Bahwa hidup dan perjalanan telah dipilih Sultan Mahmud. Dia telah memilih untuk meninggalkan gelimang dunia. Merasa lebih damai nyawiji bersama alam dalam kesederhanaan dan tanpa beban. Menyisakan kisah dan sejarah perjalanan untuk generasi berikutnya.

Akhirnya Sultan Mahmud beserta Siti Asiyah, isterinya menghabiskan hidup di sana. Sebelah utara pasujudan Sunan Bonang. Di Puncak dari bukit Watu Layar, Desa Binangun Kecamatan Lasem.

Demikianlah sekelimut cerita tutur yang bisa saya tuturkan ulang bagi kerabat akarasa sekalian. Beliau ini dikenal juga dengan nama Kyai Jejeruk (Mbah Jejeruk) adalah Raden Abdur Rokhman atau juga dikenal sebagai  Sultan Makhmud. Beliau adalah raja dari kerajaan Minangkabau.

Ketika ayahnya wafat, Sultan Makhmud mendapat tinggalan warisan sebuah kitab, tetapi sayangnya beliau belum dapat memahami arti yang terkandug dalam kitab tersebut.

Untuk itu beliau pergi sampai ke Mesir dan Mekah untuk mencari seorang guru yang dapat menerangkan maksud atau arti dari kitab yang dimilikinya, tapi hasilnya sia-sia. Sehingga hatinya bertambah susah, mengapa beliau mendapat warisan sebuah kitab yang tidak diketahui maksudnya.

Kebetulan ada seorang pengail yang mengetahui bahwa di tanah Jawa ada ulama yang sangat alim, tentang hal tersebut disampaikan kepada Patih dan oleh Sang Patih kabar tersebut disampaikan kepada Sang Raja. Sang Raja sangat bergembira dan memutuskan untuk segera berangkat ke tanah Jawa untuk menemui Kiai yang dimaksud.

Dengan perbekalan yang cukup berangkatlah Sultan Mahmud beserta patihnya dengan menumpang sebuah perahu besar, sayang ditengah perjalanan datanglah angin kencang yang mengakibatkan perahu tadi terguling. Semua perbekalan beserta kitab beliau hilang, masuk ke dasar laut.

Sultan Mahmud susah karena hilangnya sebuah kiab yang sangat berharga. Karena kebingungannya itu, Sultan Mahmud bermaksud untuk kembali ke kerajaan. Oleh Sang Patih hal tersebut tidak disetujui. Dengan rasa berat, diteruskalah perjalanannya hingga dapat menemui Sang Kiai.

Di hadapan Sang Kiai (Kanjeng Sunan Bonang) Sultan Mahmud memperkenalkan diri, maksud kedatangannya beserta musibah yang menimpa dalam perjalanannya. Tiba-tiba Sang Kiai mengeluarkan sebuah kitab dari sakunya, dan menanyakan apakah kitab ini yang dimaksud. Setelah diteliti oleh Sang Raja, benar bahwa kitab itu adalah miliknya. Seketika itu Sultan Mahmud melepas pakaian dan pangkat kesultanan, sujud (sungkem) dihadapan Kanjeng Sunan Bonang tetapi hal itu dicegah oleh Kanjeng Sunan.

Kanjeng Sunan Bonang mulai membaca dan menerangkan semua isi yang terkandung dalam kitab tadi dan akhirnya difahami oleh Sang Raja. Setelah Sang Raja memahami semuanya, beliau memerintah kepada Sang Patih untuk kembali ke Minangkabau dengan beberapa pesan :

1. Beliau (Sultan Mahmud) akan menetap di tanah Jawa (Bonang)
2. Memberi kebebasan kepada Sang Putri Ratu (istri) untuk memilih tetap tinggal di keraton, atau menyusul ke Jawa.
3. Menyerahkan tahta kerajaan kepada adik baginda raja, untuk memegang pusat pemerintahan Minangkabau.

Karena kesetiaan sang putri kepada sang suami Baginda Raja, maka beliau tetap memilih untuk menyusul ke tanah Jawa, waau harus melepas tahta kerajaan. Akhirnya Sultan Mahmud beserta istri menjadi murid yang setia dari Kanjeng Sunan Bonang.


Mengenal kitab Faraidl As-Saniyyah Wa Ad-Durar Al-Bahiyyah: Kitab Hujjah Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Di Indonesia pada dekade 60 sampai 70-an, muncul gerakan-gerakan anti adat dan penolakan atas kulturisasi agama dengan alasan bertentangan ...