Blog ini adalah Blog yang membahas mengenai beberapa kisah ulama', tradisi, dan beberapa pelajaran
Postingan Populer
-
KH M Aniq Muhammadun (Ahad, 7 Juni 2020), Rais Syuriyah PCNU Pati Dan Pengasuh PP Mambaul Ulum Pakis Tayu dawuh: Alumni Mesir diperintah...
-
Kalangan pesantren pastinya mengenal sebuah kitab adab yang bernama Ta’lim Al-Muta’allim. Kitab karangan Syaikh Al-Zarnuji ini mempunyai ...
-
Kiai sungguhan itu ya Kiai Muhammad," kira-kira demikian ujar Mbah Abdullah Salam Kajen kepada seorang santri mbareng saat sowan b...
Sabtu, 17 Agustus 2019
Kisah KeIkhlasan Gus Dur
Sabtu, 10 Agustus 2019
Mimpi Mbah Moen tentang Gus Dur
Mbah Maimoen dan Gus Baha'
Rabu, 07 Agustus 2019
Ulama Nusantara yang dimakamkan di Jannatul Ma'la Makkah Al-Mukarromah
Dawuh Kyai-Kyai sepuh akan keshalehan dan kewalian Mbah Moen (KH. Maimun Zubair)
"Putra Kiai Zubair Sarang datang dari Mekkah", seorang Kiai mengabarkan kepada segenap tamu. Ramah tamah yang awalnya "biasa-biasa saja" seperti berubah menjadi sesuatu yang luar biasa.
"Siapa namanya?", Mbah Ma'shum bertanya. Beliau perlu bertanya sebab orang yang dibicarakan belum masuk lingkaran Kiai khos di lingkungan Mbah Ma'shum--yang saat itu telah berusia 80 tahun.
"Gus Maimun...", Kiai pemberi kabar menjawab.
Para Kiai di ndalem itu, sebenarnya, masih banyak yang belum mengenal putra Mbah Zubair yang bernama Gus Maimun itu. Akan tetapi, ... setelah hening beberapa waktu, ada respon ...........
"Dia orang 'alim...", Mbah Ma'shum memuji.
"Dia seorang faqih...", Kiai lain memujinya.
"Dia seorang sufi...", ungkap Kiai lainnya lagi.
Para Kiai secara bergantian terus memuji Gus Maimun itu, seolah pernah berguru kepadanya, atau berteman. Masing-masing Kiai, yang semuanya keramat, menyebutkan sifat, karakter serta kelebihan seorang Gus Maimun--dan beliau semuanya manggut-manggut. Seperti ada kesepakatan batin.
Setelah masing-masing Kiai menyampaikan ungkapannya, hening sebentar. Lalu...
Kiai Hamid Pasuruan, yang hadir di ndalem Mbah Ma'shum, menutup pujian-pujian para Kiai atas Gus Maimun itu dengan kalimat berbahasa Arab ;
انّه ذكيّ عالم صالح مفسّر محدّث فقيه صوفيّ وليّ من أولياء الله....
Pernyataan pujian Kiai Hamid di atas, yang diungkapkan hampir 70 tahun lalu, adalah yang paling valid mengenai Gus Maimun alias Simbah Maimun Zubair. Ringkasan dari ungkapan Kiai Hamid Pasuruan tadi, kurang-lebihnya, "Simbah Maimun Zubair adalah Maha Kiai".
Kini, sang Maha Kiai telah meninggalkan kita.
إنا لله و إنا إليه راجعون. اللهم اغفر له و ارحمه و عافه و اعف عنه.
Selamat jalan, Maha Kiai Simbah Maimun Zubair, mohon doanya semoga kami bisa melaksanakan pesan dan nasehatmu...
________________
الرواية بالمعنى من الوالد
KH.Maimoen Zubair:Kyai Kharismatik Nasionalis dan Rendah Hati
KH H Maimun Zubair, kadang
ditulis menggunakan ejaan lama Maimoen Zoebair, (lahir
di Rembang, 28 oktober 1928 – meninggal di Mekkah, 6
Agustus 2019 pada umur 90 tahun), atau akrab dipanggil Mbah Moen, adalah seorang ulama dan politikus Indonesia. Ia
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang,Rembang dan menjabat
sebagai Ketua Majelis Syariah PPP hingga ia wafat. Ia pernah menjadi
anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas,
ia mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tapi rupanya tenaga dan
pikiran ia masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia diangkat menjadi
anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.
Putra Kyai
KH Maimun Zubair mendapat bekal pendidikan agama dari ayahnya yang
juga seorang Kyai yakni Kyai Zubair.
Mbah Moen dilahirkan di Karang Mangu Sarang hari Kamis Legi bulan
Sya'ban tahun 1347 H atau 1348H atau 28 Oktober 1928.
Ayah Mbah Moen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh
Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.
Dua ulama yang kesohor pada saat itu.
Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang
merakyat.
Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama yang
kharismatis yang teguh memegang pendirian.
Pada umur 25 tahun, beliau menikah dan selanjutnya menjadi kepala
pasar Sarang selama 10 tahun.
Riwayat Pendidikan KH. Maimun Zubair
Setelah mengaji dan mendalami ilmu agama dari Ayahnya, kemudian KH
Maimun Zubair meneruskan mondoknya di Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Mahrus
Ali dan KH Marzuki Dahlan.
Tidak hanya di Indonesia, KH. Maimun Zubair kemudian melanjutkan
kelana ilmunya di Makkah Mukarromah pada usia 21 tahun.
Ketika melakukan perjalanan ke Mekkah ini, Mbah Moen ditemani oleh
kakeknya sendiri yaitu KH. Ahmad bin Syuaib.
Di Mekkah, KH. Maimun Zubair banyak mengaji kepada ulama-ulama
besar seperti Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan
al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul
Qodir al-Mandaly dan ulama-ulama lainnya.
Meski sedang mencari ilmu di Mekkah, namun Mbah Moen menyempatkan
untuk menuntut ilmu kepada Ulama Jawa yang berada di Mekkah seperti Kiai
Baidhowi, Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab
Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon),
Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban) dan beberapa Ulama lainnya.
Dalam catatan sejarah hidupnya, KH Maimun Zubair tidak hanya
mengabdikan diri pada agama saja.
Namun beliau juga adalah seorang yang sangat aktif di berbagai
bidang sebagai pengabdian beliau kepada negara.
KH Maimun Zubair pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7
tahun.
Selain itu Mbah Moen juga pernah menjadi anggota MPR RI yang
mewakili daerah Jawa Tengah selama 3 periode.
Kini, beliau masih aktif sebagai Ketua Dewan Syuro Partai
Persatuan Pembangunan (PPP), hingga wafat di Mekkah.
Wafat Di Mekkah
Baca juga: KH.
Maimoen Zubair wafat
Tokoh Nahdlatul Ulama dan Kiai karismatik KH Maimun Zubair atau
akrab disapa Mbah Moen wafat di Mekkah, saat melakukan rangkaian ibadah haji
pada Selasa (6/8/2019).
KH.MAIMOEN ZUBAIR WAFAT
Mengenal kitab Faraidl As-Saniyyah Wa Ad-Durar Al-Bahiyyah: Kitab Hujjah Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah
Di Indonesia pada dekade 60 sampai 70-an, muncul gerakan-gerakan anti adat dan penolakan atas kulturisasi agama dengan alasan bertentangan ...
-
Beberapa tahun lalu, di sebuah pengajian kitab yang terbuka untuk umum, almarhum Mbah Maimun Zubair ketika memberi pengantar tentang ...
-
Keberadaan Shalawat Nariyah memang menjadi kontroversi tersendiri di kalangan umat Islam. Ada yang mengatakan itu bid’ah, syirik d...
-
Mungkin beberapa waktu yang silam kita melihat hubungan KH. Maimoen Zubair (Rembang) dengan keluarga Gus Dur (Ciganjur) biasa-biasa s...






