Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label Pati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2020

Mbah Madun: Sosok Tawadlu' Ahli Ilmu



Mbah Muhammadun adalah sosok yg luar biasa.  Setiap malam beliau memasak sendiri untuk istrinya. Satu ketika ada santri matur : "Yai, kersane kulo mawon sg masak.  - kata beliau : "Ojo nang.  Aku masakke bojoku iki sbb hurmat karo guruku (Mbah Yasin). Istri Mbah Madun adalah putri Mbah Yasin Waliyulloh

Beliau adalah sosok alim allamah. Mungkin beliau adalah Ulama jawa terakhir yg mengajar Alfiyah Mukhtar bin Bunah as-Syinqithi. Sebuah kitab nadzam nahwu berjumlah 3000 bait.  Dimana Muallif (ibnu Bunah) melengkapi Alfiyah Ibnu Malik yg hanya 1002 bait menjadi 3000 bait lebih.  

Saat ini saya tidak pernah dengar ada pesantren mengajarkan kitab tsb.  Keculi di daerah asalnya, Syinqith (Afrika). Alfiyah Mukhtar bin Bunah ini dikenal juga dgn "Turroh Ibnu Bunah". (طرة ابن بونة)
 
Syaikhuna Sanusi Yasin pernah cerita : "Aku iki termasuk santri terakhir sg ngaji Alfiyah Ibnu Bunah dgn Mbah Madun".

Kealiman beliau dlm ilmu nahwu tidak diragukan lagi.  Dulu saat masih nyantri di Mbareng, beliau sangat istiomah mengkaji kitab "Dahlan Afiyah".

Kealiman mbh Madun dlm bidang nahwu ini sehingga beliau men-syarahi Alfiyah Suyuthi.  Kita tahu bahwa Alfiyah Suyuthi ini oleh pengarangnya diklaim lebih keren daripada Ibnu Malik.  Begitulah gaya Imam Suyuthi. 

Ketika Sowan Kyai Aniq Muhammadun, beliau cerita bhw Mbah Madun ini punya Syarah Alfiyah Suyuthi. Hanya tidak sampai rampung.Alhamdulillah alfaqir pernah membaca syarah tsb.Masih tulisna tangan beliau.Bagus banget tulisannya. Saat ini tersimpan di perpustakaan Pondowan.

Dalam bidang sastra arab, Mbah Madun ini luat biasa. Beliau mengajar kitab "Talkhisul Miftah" karya Pionir sastra, Imam as-Sakkaki.Para santri pasti tahu Talkhisul Miftah ini adalah babonnya kitab "balaghah". Kitab jauhar al-Maknun itu diambil dari kitab ini.

Penguasaan beliau terhadap kitab-kitab fiqh top. Dulu saat beliau diundang menghadiri munadzarah di Menara Kudus, beliau hadir tanpa membawa kitab.Apa yg beliau sampaikan saat itu ditulisi oleh KH Sya'roni Ahmadi, dan jadilah kitab "Al-Faraid as-Saniyah.

Oleh: An-Naml

Senin, 23 November 2020

Mbah Nyai Halimah: Sosok Perempuan Tangguh yang Melahirkan Tokoh-Tokoh Hebat



Beliau adalah ibunda Mbah Muhammadun, Pondowan Tayu Pati. Mbah Halimah menikah dg Mbah Murtomo alias Mbah Ali Murtadho. Dari pernikahan tersebut telah melahirkan 6 putra yg alim dalam bidang ilmu agama. Enam putranya tersebut adalah Mbah Abdul Basyir, Mbah Abdul Adzim, Mbah Muhdhori, Mbah Muhammadun, Mbah Mahsun, dan Mbah Halimi. 


Mbah Halimah bersama suami dan putra2nya berdomisili di Cebolek Kidul Margoyoso Pati. Sepeninggal beliau, ia berwasiat agar petilasannya diwakafkan menjadi pesantren. Lalu oleh putra pertama beliau, Mbah Abdul Basyir dibangunlah gedung pesantren dan kemudian dinamakan Mansajul Ulum. Saat itu yg didapuk utk menunggui pesantren adalah Bapak (Mbah Abdullah Rifa'i) yg merupakan menantu Mbah Muhammadun. 


Sejak kecil hingga saya meninggali petilasan beliau di Cebolek ini belum pernah mendengar cerita tentang wafat beliau. Baru hari ini saya dikabari oleh pak lek KH. Aslam Muhammaduna bahwa, tgl 8 Muharram adalah haul beliau. Karenanya kami langsung mengajak santri-santri utk tahlil bersama-sama di sarean beliau. 


Mbah Halimah ini adalah sosok perempuan shalihah yg ahli riyadhah. Kiai Aniq Muhammadun beberapa tahun lalu saat haul Emak (Mbah Salamah Muhammadun, putri KH. Muhammadun) dan saat reuni Bani Muhammadun pernah menceritakan bahwa Mbah Halimah ini bisa dibilang wali perempuan. Doa beliau "mandi" alias manjur. Konon katanya Mbah Yasin waliyullah, Jekulo (adik beliau) tidak berani menentang ucapan beliau. Karena tahu bahwa ngendikakan beliau itu sangat manjur. Karena doa dan riyadhah beliau itulah menurut Kiai Aniq, semua putra-putra beliau menjadi orang yg alim dalam ilmu agama. 


Sosok Mbah Halimah ini merepresentasikan profil perempuan-perempuan kuno yg kehidupannya sangat luar biasa tetapi seringkali tdk terekam dalam sejarah. Tetapi dalam keluarga kami Mbah Halimah ini cukup unik. Meski beliau bukan seorang ibu nyai yg disegani, tetapi nama beliau lebih banyak disebut dalam silsilah keluarga dibanding Mbah Murtomo, suaminya. Saya tak tahu kenapa bisa seperti itu. Saya berasumsi barangkali karena beliau hidup lebih lama dibanding Mbah Murtomo. 


Tapi dari cerita diatas saya membayangkan Mbah Halimah ini kemungkinan adalah sosok perempuan cerdas dan cadas (tangkas dan berani). Beliau selain tekun ibadah dan kuat dalam riyadhah, juga punya pikiran yg maju dan berani. Kenapa demikian? Karena beliaulah yg dulu memiliki inisiatif untuk mewakafkan seluruh tanah warisan beliau utk dijadikan pondok pesantren. Dan yg boleh menempati atau melanjutkan tempat tinggal beliau adalah yang siap ngurip2 pondok itu. Karenanya seluruh tanah warisannya yg berada di kompleks ndalem beliau menjadi tanah wakaf.


Tidak sembarang orang punya pikiran dan keberanian yg demikian maju. Apalagi perempuan pada masa itu. Hanya orang2 yg berpikiran maju dan "tidak kedunyan" (orang2 yg Zuhud) yg berani melepaskan hartanya utk menjadi harta wakaf di jalan Allah utk pengembangan pendidikan. Dan Mbah Halimah mencontohkan itu kepada kita. 


Karenanya Kiai Aniq Muhammadun saat tausiah itu berpesan kepada kami bahwa menjadi ibu itu harus kuat riyadhah seperti Mbah Halimah. Agar anak-anaknya kelak menjadi orang yg alim. Karena doa ibu itu sangat mustajab. 


Semoga kita semua bisa meneladani pribadi beliau yg shalihah dan muthi'ah. Amin.

Lahal Fatihah.


Sumber: Bu Nyai Umdah El Baroroh (Cucu KH. Muhammadun Pondowan. Sekarang mengasuh PP. Mansajul Ulum Al-Mutsla Cebolek)

Rabu, 15 Januari 2020

KH M. Aniq Muhammadun: Pakar Nahwu Yang Tersembunyi




Putra KH Muhammadun Pondowan ini adalah sosok yang bersahaja. Beliau menerima tamu dengan tangan terbuka. Para tamu tidak sungkan (malu) menyampaikan unek-unek (isi hati sesuai keinginan atau kebutuhan). Kiai Aniq menjawab sesuai pertanyaan atau keluhan yang disampaikan. 

Beliau lebih dikenal sebagai ahli fiqh. Wawasan dan pemikiran fiqhnya mendalam. Banyak orang mengatakan bahwa Kiai Aniq itu tabahhur (nyegoro) atau tahqiq (memahami secara mendalam dan di luar kepala) kitab kuning, khususnya fiqh. 

Penulis bersama rombongan dari Yayasan Luthful Ulum Wonokerto Pasucen dulu pernah menyampaikan masalah tentang zakat fitrah yang biasa terjadi di madrasah. Kiai Aniq menjawab bahwa di zaman Mbah Madun praktek zakat di madrasah tersebut ada hilah (mengatur), yaitu guru yang menerima zakat harus benar-benar guru yang masuk ashnaf tsamaniyah (golongan delapan) yang berhak menerima zakat, khususnya fakir-miskin. 

Dalam forum Bahtsul Masail di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama, dari level Majlis Wakil Cabang, Cabang, Wilayah, dan Pusat (Muktamar, Munas, Kombes), pandangan dan pemikiran beliau sangat dinanti. Posisi Kiai Aniq dalam forum tersebut sebagai mushahhih (korektor) yang mengoreksi dan memilih jawaban dan ibarat kitab yang tepat dengan konteks masalah yang dikaji. 

Kiai Aniq juga sering diundang dalam forum diskusi ilmiah, selain dalam forum pengajian. Di IPMAFA, tepatnya di Prodi Zakat Wakaf, Kiai Aniq pernah menyampaikan pemikiran tentang zakat produktif dan wakaf produktif. Dalam konteks zakat profesi dan zakat produktif, Kiai Aniq menjelaskan dengan ibart "ijaratun nafsi", yakni menyewakan potensi diri dengan kompensasi tertentu. 

Hal ini diperbolehkan, sehingga profesi yang komersial, seperti dokter, komisaris, manajer, aparatur sipil negara, dan lain-lain yang sudah mencapai satu nishab selama satu tahun wajib mengeluarkan zakat. 

Dalam konteks zakat produktif, Kiai Aniq menjelaskan pandangan fiqh yang menganjurkan pemberian zakat dalam dalam bentuk kail dari pada ikan, seperti modal usaha, alat untuk bekerja, dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa zakat produktif sudah dijelaskan dalam kitab fiqh klasik. 

Namun dalam konteks wakaf, Kiai Aniq konsisten dengan madzhab Syafi'i yang tidak memperbolehkan wakaf uang yang lebih dikenal dengan wakaf produktif. Mengutip kitab Asnal Mathalib, Kiai Aniq menjelaskan bahwa wakaf adalah harta yang bisa dimanfaatkan dan dipindahkan kepemilikannya kepada Allah secara permanen, bukan temporer, untuk menggapai ridla Allah.  

Meskipun undang-undang wakaf memperbolehkan wakaf uang dan wakaf temporer, Kiai Aniq tetap konsisten dengan madzhab Syafi'i yang tidak memperbolehkan wakaf temporer atau wakaf uang tersebut. 

Pandangan-pandangan fiqh Kiai Aniq di satu sisi dinamis-kontekstual dan di sisi lain tekstual. Semua ini tidak lepas dari pemahaman beliau yang mendalam terhadap substansi kitab kuning yang beliau kaji selama puluhan tahun, sehingga kebenaran ilahi yang beliau cari, bukan kebenaran yang mengikuti nafsu dan ruang yang nisbi. 

Muallif Nahwu 

Di samping pakar fiqh yang dibuktikan dalam berbagai forum Bahtsul Masail dan seminar, Kiai Aniq Muhammadun ternyata adalah sosok pakar nahwu. Dalam bidang ini, beliau  sudah punya karya yang dikaji tidak hanya di Pondoknya (Mambaul Ulum Pakis), tapi juga di tempat lain, seperti di Pasuruan. 

Nama kitab nahwu yang ditulis Kiai Aniq adalah "Tashil Al-Salik Fi Tarjamati Alfiyyati Ibni Malik" yang menjelaskan dengan bahasa Jawa kitab Alfiyyah Ibnu Malik yang sangat populer di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya. 

Kitab ini ditulis Kiai Aniq ketika beliau sudah berdomisili di Pakis, di tengah mengasuh para santri. Kitab ini memang stoknya terbatas, oleh sebab itu perlu diperbanyak supaya semakin banyak pelajar dan umat Islam yang bisa menikmati karya ulama Nusantara. 

Generasi Kiai Muhammadun Pondowan 

Kiai Aniq melanjutkan kepakaran ilmu nahwu dari ayahandanya KH Muhammadun Pondowan yang menurut Sayyid Muhammad Al Makki  diberi gelar "Sibawaih Jawa". 

 Kiai Aniq memulai studi di Pondowan, kemudian selama 6 tahun di Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) Kajen di pesantren Mathaliul Huda (PMH) Pusat di bawah asuhan KH Abdullah Zain Salam. Selama di Kajen, Kiai Aniq juga ngaji banyak kitab kepada KH MA Sahal Mahfudh, khususnya tentang fiqh dan Ushul fiqh. 

Setelah itu, Kiai Aniq kembali ke Pondowan untuk mengaji kepada ayahandanya secara langsung selama kurang lebih 10 tahun. Berbagai Syarah Alfiyyah Ibnu Malik, seperti Ibnu Aqil dan Dahlan dilahap dengan renyah langsung dari ayahandanya. 

Di tengah mengaji, Kiai Aniq juga mengajar para santri dan melatih mereka Bahtsul Masail. Kiai Aniq merintis musyawarah kitab Fathul Qarib dan Fathul Mu'in di Pondowan yang sebelumnya tidak ada. 

Setelah menikah dengan Hj Salamah Zubair Dahlan Sarang, Kiai Aniq di Pondowan sebentar kemudian berdomisili di Sarang. Tidak lama di Sarang Kiai Aniq kembali ke Pati dengan memilih lokasi yang dekat dengan Pondowan, yaitu Pakis. Di Pakis inilah, Kiai Aniq merintis pesantren yang dikenal dengan nama Mambaul Ulum (tempat berseminya ilmu). 

Pesantren ini terus berkembang. Jumlah santri terus meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini, jumlah santri putra dan putri sekitar 300-an. Santri berasal dari berbagai wilayah, mulai Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan lain-lain. 

Tanya Jawab Fiqh 

Di samping karya bidang nahwu, Kiai Aniq juga mempunyai karya fiqh dalam bentuk tanya jawab yang dipublikasikan oleh Media Harian. Karya ini insya Allah akan diterbitkan dalam bentuk buku untuk melengkapi karyanya di bidang nahwu.  

Semoga KH M. Aniq Muhammadun diberikan kesehatan, umur panjang, dan keberkahan ilmu yang bermanfaat untuk para santri, umat Islam, dan bangsa secara keseluruhan. Amiin Yaa Rabbal Alamiin.

Pakis, Sabtu, 16 Nopember 2018

Sumber: KH. Jamal Pati 

Mengenal kitab Faraidl As-Saniyyah Wa Ad-Durar Al-Bahiyyah: Kitab Hujjah Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Di Indonesia pada dekade 60 sampai 70-an, muncul gerakan-gerakan anti adat dan penolakan atas kulturisasi agama dengan alasan bertentangan ...