Postingan Populer

Rabu, 15 Januari 2020

KH M. Aniq Muhammadun: Pakar Nahwu Yang Tersembunyi




Putra KH Muhammadun Pondowan ini adalah sosok yang bersahaja. Beliau menerima tamu dengan tangan terbuka. Para tamu tidak sungkan (malu) menyampaikan unek-unek (isi hati sesuai keinginan atau kebutuhan). Kiai Aniq menjawab sesuai pertanyaan atau keluhan yang disampaikan. 

Beliau lebih dikenal sebagai ahli fiqh. Wawasan dan pemikiran fiqhnya mendalam. Banyak orang mengatakan bahwa Kiai Aniq itu tabahhur (nyegoro) atau tahqiq (memahami secara mendalam dan di luar kepala) kitab kuning, khususnya fiqh. 

Penulis bersama rombongan dari Yayasan Luthful Ulum Wonokerto Pasucen dulu pernah menyampaikan masalah tentang zakat fitrah yang biasa terjadi di madrasah. Kiai Aniq menjawab bahwa di zaman Mbah Madun praktek zakat di madrasah tersebut ada hilah (mengatur), yaitu guru yang menerima zakat harus benar-benar guru yang masuk ashnaf tsamaniyah (golongan delapan) yang berhak menerima zakat, khususnya fakir-miskin. 

Dalam forum Bahtsul Masail di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama, dari level Majlis Wakil Cabang, Cabang, Wilayah, dan Pusat (Muktamar, Munas, Kombes), pandangan dan pemikiran beliau sangat dinanti. Posisi Kiai Aniq dalam forum tersebut sebagai mushahhih (korektor) yang mengoreksi dan memilih jawaban dan ibarat kitab yang tepat dengan konteks masalah yang dikaji. 

Kiai Aniq juga sering diundang dalam forum diskusi ilmiah, selain dalam forum pengajian. Di IPMAFA, tepatnya di Prodi Zakat Wakaf, Kiai Aniq pernah menyampaikan pemikiran tentang zakat produktif dan wakaf produktif. Dalam konteks zakat profesi dan zakat produktif, Kiai Aniq menjelaskan dengan ibart "ijaratun nafsi", yakni menyewakan potensi diri dengan kompensasi tertentu. 

Hal ini diperbolehkan, sehingga profesi yang komersial, seperti dokter, komisaris, manajer, aparatur sipil negara, dan lain-lain yang sudah mencapai satu nishab selama satu tahun wajib mengeluarkan zakat. 

Dalam konteks zakat produktif, Kiai Aniq menjelaskan pandangan fiqh yang menganjurkan pemberian zakat dalam dalam bentuk kail dari pada ikan, seperti modal usaha, alat untuk bekerja, dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa zakat produktif sudah dijelaskan dalam kitab fiqh klasik. 

Namun dalam konteks wakaf, Kiai Aniq konsisten dengan madzhab Syafi'i yang tidak memperbolehkan wakaf uang yang lebih dikenal dengan wakaf produktif. Mengutip kitab Asnal Mathalib, Kiai Aniq menjelaskan bahwa wakaf adalah harta yang bisa dimanfaatkan dan dipindahkan kepemilikannya kepada Allah secara permanen, bukan temporer, untuk menggapai ridla Allah.  

Meskipun undang-undang wakaf memperbolehkan wakaf uang dan wakaf temporer, Kiai Aniq tetap konsisten dengan madzhab Syafi'i yang tidak memperbolehkan wakaf temporer atau wakaf uang tersebut. 

Pandangan-pandangan fiqh Kiai Aniq di satu sisi dinamis-kontekstual dan di sisi lain tekstual. Semua ini tidak lepas dari pemahaman beliau yang mendalam terhadap substansi kitab kuning yang beliau kaji selama puluhan tahun, sehingga kebenaran ilahi yang beliau cari, bukan kebenaran yang mengikuti nafsu dan ruang yang nisbi. 

Muallif Nahwu 

Di samping pakar fiqh yang dibuktikan dalam berbagai forum Bahtsul Masail dan seminar, Kiai Aniq Muhammadun ternyata adalah sosok pakar nahwu. Dalam bidang ini, beliau  sudah punya karya yang dikaji tidak hanya di Pondoknya (Mambaul Ulum Pakis), tapi juga di tempat lain, seperti di Pasuruan. 

Nama kitab nahwu yang ditulis Kiai Aniq adalah "Tashil Al-Salik Fi Tarjamati Alfiyyati Ibni Malik" yang menjelaskan dengan bahasa Jawa kitab Alfiyyah Ibnu Malik yang sangat populer di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya. 

Kitab ini ditulis Kiai Aniq ketika beliau sudah berdomisili di Pakis, di tengah mengasuh para santri. Kitab ini memang stoknya terbatas, oleh sebab itu perlu diperbanyak supaya semakin banyak pelajar dan umat Islam yang bisa menikmati karya ulama Nusantara. 

Generasi Kiai Muhammadun Pondowan 

Kiai Aniq melanjutkan kepakaran ilmu nahwu dari ayahandanya KH Muhammadun Pondowan yang menurut Sayyid Muhammad Al Makki  diberi gelar "Sibawaih Jawa". 

 Kiai Aniq memulai studi di Pondowan, kemudian selama 6 tahun di Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) Kajen di pesantren Mathaliul Huda (PMH) Pusat di bawah asuhan KH Abdullah Zain Salam. Selama di Kajen, Kiai Aniq juga ngaji banyak kitab kepada KH MA Sahal Mahfudh, khususnya tentang fiqh dan Ushul fiqh. 

Setelah itu, Kiai Aniq kembali ke Pondowan untuk mengaji kepada ayahandanya secara langsung selama kurang lebih 10 tahun. Berbagai Syarah Alfiyyah Ibnu Malik, seperti Ibnu Aqil dan Dahlan dilahap dengan renyah langsung dari ayahandanya. 

Di tengah mengaji, Kiai Aniq juga mengajar para santri dan melatih mereka Bahtsul Masail. Kiai Aniq merintis musyawarah kitab Fathul Qarib dan Fathul Mu'in di Pondowan yang sebelumnya tidak ada. 

Setelah menikah dengan Hj Salamah Zubair Dahlan Sarang, Kiai Aniq di Pondowan sebentar kemudian berdomisili di Sarang. Tidak lama di Sarang Kiai Aniq kembali ke Pati dengan memilih lokasi yang dekat dengan Pondowan, yaitu Pakis. Di Pakis inilah, Kiai Aniq merintis pesantren yang dikenal dengan nama Mambaul Ulum (tempat berseminya ilmu). 

Pesantren ini terus berkembang. Jumlah santri terus meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini, jumlah santri putra dan putri sekitar 300-an. Santri berasal dari berbagai wilayah, mulai Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan lain-lain. 

Tanya Jawab Fiqh 

Di samping karya bidang nahwu, Kiai Aniq juga mempunyai karya fiqh dalam bentuk tanya jawab yang dipublikasikan oleh Media Harian. Karya ini insya Allah akan diterbitkan dalam bentuk buku untuk melengkapi karyanya di bidang nahwu.  

Semoga KH M. Aniq Muhammadun diberikan kesehatan, umur panjang, dan keberkahan ilmu yang bermanfaat untuk para santri, umat Islam, dan bangsa secara keseluruhan. Amiin Yaa Rabbal Alamiin.

Pakis, Sabtu, 16 Nopember 2018

Sumber: KH. Jamal Pati 

Sabtu, 17 Agustus 2019

Kisah KeIkhlasan Gus Dur



Dikisahkan oleh Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, tentang keikhlasan sosok KH AbdurrahmanWahid (Gus Dur). Suatu hari KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) menggelar acara pernikahan putra beliau. Saat itu, untuk membantu kelancaran acara, Gus Dur memberikan bantuan banyak sekali  sehingga acara pernikahan dapat berjalan dengan baik.

Selanjutnya Gus Dur pun berkata kepada Mbah Moen bahwa kewajibannya untuk membantu acara Mbah Moen sudah dilaksanakan. Sekarang saatnya Mbah Moen membantunya dengan menutupi semua amal kebaikan yang sudah dilakukannya dan tidak menceritakan kebaikannya tersebut kepada orang lain dengan berbagai cara. Salah satunya, Gus Dur meminta kepada Mbah Moen untuk pura-pura saling bermusuhan agar segala amal kebaikannya tidak diketahui oleh orang lain. Cukup Allah SWT yang tahu. Oleh karena itu ketika semasa hidup Gus Dur, Mbah Moen dan Gus Dur terlihat sangat bermusuhan karena memang sudah direncanakan untuk bersandiwara.

Namun ketika Gus Dur meninggal dunia, sandiwara pun usai. Mbah Moen lah yang memimpin prosesi pemakaman Gus Dur. Tidak hanya itu, prosesi selanjutnya, Mbah Moen lah yang mengimami tahlil takziyah hari ketujuh. Mbah Moen lah yang mengisi mauidzah hasanah peringatan 1000 hari wafat dan haulnya Gus Dur. Jadi sebenarnya Gus Dur dan Mbah Moen tidaklah bermusuhan namun hanya bersandiwara atau pura-pura permusuhan untuk menutupi amal baik Gus Dur. “Gus Dur benar-benar wali,” kata Kiai Marzuki Mustamar.

Kisah kedua tentang keikhlasan Gus Dur terjadi saat Gus Dur membawa tiga buah koper ke rumah seseorang yang bernama Agus di  Kelurahan Jatikerto Malang. Gus Dur berkata kepada Agus untuk tidak membuka koper tersebut sebelum  Gus Dur meninggal dunia.

Sesuai amanah, setelah Gus Dur meninggal dunia, dibukalah koper tersebut dan ternyata didalamnya berisi uang sebanyak 3 miliar rupiah. Saat dibuka, uang dalam koper tersebut sudah dimasukkan ke dalam amplop yang nantinya, Agus lah yang bertugas untuk membagikannya kepada para anak yatim piatu dan para janda di Kabupaten Malang.

Dan luar biasanya lagi, di dalam amplop tersebut sudah tertulis nama dan alamat yatim piatu dan para janda yang akan menerimanya. Inilah karomah Gus Dur bisa tahu nama dan alamat anak yatim dan para janda sebegitu banyak di Malang. Padahal kala itu, Gus Dur berada di Jakarta sedangkan para penerima uang dalam koper berada di Kabupaten Malang.

Kiai Marzuki pun pernah merasakan sendiri keikhlasan dari Gus Dur saat dirinya mendapatkan sarung merk BHS yang diberikan Gus Dur melalui seorang Habib di Sidoarjo. Habib tersebut berkata bahwa sarung itu adalah titipan dari Gus Dur yang harus diberikan kepada para kiai setelah Gus Dur meninggal Dunia. Karena ketika dibagi sebelum Gus Dur meninggal, maka para kiai akan mengucapkan terima kasih kepada Gus Dur. Maka itu, sampai sekarang sarung itu pun sangat disayang oleh Kiai Marzuki. Ia menyebut sarung tersebut sebagai piagam dari Gus Dur.

Kisah lain keikhlasan sosok Gus Dur adalah ketika ditanya oleh seseorang tentang apa yang paling penting di dalam hidupnya. Gus Dur pun menjawab baginya yang terpenting nomor satu adalah bangsa, nomor dua adalah NU dan nomor 3 adalah keluarga.

Ini pun bukan omongan belaka. Prinsip ini benar-benar dibuktikan oleh Gus Dur saat suatu hari baru kembali dari Italia membawa uang yang cukup banyak. Ia tidak langsung pulang ke rumahnya namun mampir mampir terlebih dahulu di Kantor NU.

Uang yang dibawa tersebut langsung habis dibagikannya kepada seluruh pegawai di kantor NU. Tidak ada yang tersisa untuk keluarga di rumah. Ketika Ibu Shinta Nuriyah (Istri Gus Dur) menanyakan uang tersebut untuk mengirim biaya putrinya yang sedang kuliah di Universitas Gajah Mada, Gus Dur pun menjawab bahwa uang tersebut sudah dibagikannya ke pegawai di Kantor NU.

Ibu Shinta pun jengkel dan menanyakan alasan kenapa uang tersebut dihabiskan di Kantor NU. Ditengah Ibu Shinta meluapkan kejengkelannya, Gus Dur malah bisa tertidur pulas, tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Ternyata prinsip “Emang Gue Pikirin, Gitu Aja Kok Repot” benar-benar tertanam dalam diri Gus Dur. Ia tetap sabar dan ikhlas walaupun dimarah dan diomong apapun oleh orang lain.

Gus Dur tidak punya hasrat agar amal baiknya dipuji oleh orang lain. Yang terpenting menurutnya Allah lah yang akan mencatatnya. Itulah mengapa saat Gus Dur wafat, orang yang semasa hidupnya mengkafir-kafirkan dan mengatakan Gus Dur sesat dan sebagainya merasa kehilangan dan semua orang pun menangis. Gus Dur memiliki magnet yang sangat kuat karena keikhlasan yang dicontohkannya semasa hidup di dunia.

KHR Asnawi: Kiai Pejuang di Masa Kolonial



Nama asli Kiai Asnawi adalah Raden Syamsi. Nama Asnawi diperoleh setelah menunaikan ibadah haji. Beliau juga pernah menggunakan mana Ilyas, ketika pertama kali berangkat haji, nama inilah yang dikenal ketika belajar di tanah Hijaz.

Asnawi, atau Raden Syamsi, lahir di Damaran, Kudus, pada 1281 H/1861 M. Ia merupakan putra dari pasangan H. Abdullah Husnin dan R Sarbinah, keduanya adalah pedagang konveksi yang cukup besar di kota Kudus. Jika dirunut silsilahnya, Kiai Asnawi masih keturunan ke-14 Sunan Kudus (Syech Ja’far Shodiq) dan keturunan ke-5 Kiai Ahmad Mutamakkin, Kajen, Pati.

Sebagai sosok ahli ilmu, sejak kecil sudah terlihat kegemaran Kiai Asnawi dalam belajar dan melakukan rihlah ilmiyyah (perjalanan keilmuan). Orang tuanya merupakan guru pertama, dalam mengaji tajwid dan penguasaan bacaan al-Qur’an. Kemudian, Asnawi kecil melakukan perjalanan ke Tulungagung, ikut orang tuanya berbisnis. Di kota ini, ia mengaji di sebuah pesantren. Kemudian, Asnawi kecil pindah ke Jepara, mengaji kepada KH. Irsyad Naib, di kawasan Mayong. Dari jalur keilmuan, jelas bahwa Kiai Asnawi mempunyai sanad yang tersambung dengan ulama-ulama Nusantara, di antaranya Kiai Saleh Darat (Semarang), Kiai Mahfudz at-Termasi (Termas, Pacitan), KH. Nawawi al-Bantani, dan Sayyid Umar Shatha.

Kiai Asnawi juga mengaji sekaligus menunaikan ibadah haji di tanah Makkah. Kiai Asnawi bermukim di Makkah, selama kisaran 20 tahun. Selama mengaji di Makkah, beliau tinggal di rumah Syekh Hamid Manan yang berasal dari Kudus. Ketika belajar di Makkah, ayah Kiai Asnawi wafat. Meski demikian, kecintaan pada ilmu tidak menyurutkan niatnya untuk terus mengasah pengetahuan.

Ketika mengaji di Makkah, Kiai Asnawi menikah dengan Nyai Hj. Hamdanah, janda Syech Nawawi al-Bantani. Pernikahan ini dikaruniai 9 putra, di antaranya H. Zuhri, Hj. Azizah (istri KH. Saleh, Tayu), dan Alawiyah (istri R. Maskub Kudus).

Kiai Asnawi merupakan sosok aktifis sekaligus pendidik. Beliau sudah mulai mengajar santri ketika masih berada di Makkah, di antara santri-santrinya, yakni Kiai Bisri Syansuri, Kiai Wahab Chasbullah, KH. Dahlan, Kiai Saleh Tayu, Kiai Chambali (Kudus), KH. Mufid (Kudus), dan Kiai Ahmad Muchit (Sidoarjo).

Sang Kiai Pejuang

Kiai Asnawi sadar bahwa perjuangan harus menjadi semangat kaum santri untuk mengusir penjajah. Kiai Asnawi, meski telah banyak berkhotbah dan memberi pengajaran kepada santri, tetap bertekad untuk terjun langsung menjadi penggerak. Menginspirasi para santri dan rakyat untuk berjuang.

Ketika pulang ke tanah air pada 1916, Kiai Asnawi mendirikan madrasah di kawasan Menara Kudus, dengan sebutan Madrasah Qudsiyyah. Beliau bersama teman-temannya, membangun masjid Menara, agar menjadi rujukan tempat ibadah kaum santri. Pada waktu itu, kaum santri dan pengusaha Tionghoa di Kudus bersaing dalam ekonomi dan politik.

Pada masa sebelum kemerdekaan, KH. Raden Asnawi pernah bergabung dengan  pergerakan Sarekat Islam (SI), sebagai komisaris di Makkah. Kiai Asnawi dekat dengan beberapa aktifis pergerakan, di antaranya H. Agus Salim, HOS Tjokroaminoto dan beberapa tokoh lainnya. Sepulang dari Makkah, Kiai Arwani dipercaya sebagai penasihat SI Kudus pada 1918.

Kiai Arwani juga dikenal sebagai anti-penjajah. Beliau dengan teguh mengobarkan semangat juang para santri, dan tidak mau tunduk pada kepentingan rezim Hindia Belanda, maupun Jepang. Kiai Arwani sering berdakwah dengan semangat jihad kemerdekaan, untuk memompa semangat kaum santri agar berani berjuang melawan penjajah di bumi Nusantara.

Pada masa pendudukan Jepang di bumi Jawa, Kiai Asnawi pernah dituduh menyimpan senjata api, sehingga rumah dan pondok dikepung oleh tentara Nippon, beliau juga dibawa ke markas Kempetei di Pati. Pada masa revolusi kemerdekaan, Kiai Asnawi menjadi penggerak kaum santri, sekaligus juga benteng spiritual para pejuang. Beliau mengajak santri dan warga muslim untuk membaca Shalawat Nariyah dan doa Surat al-Fiil. Pemuda-pemuda yang tergabung dalam jaringan laskar pejuang, berbondong-bondong sowan ke Kiai Asnawi untuk meminta doa, sebelum bertempur.

Kiai Asnawi juga menjadi sosok kiai yang turut mendirikan Nahdlatul Ulama. Pertemanan dan persahabatan dengan beberapa kiai Jawa, di antaranya Kiai Hasyim Asy’arie, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansurie dan beberapa kiai lain, menjadi ikatan kuat sosok beliau dengan perjuangan Nahdlatul Ulama, yang didirikan pada 1926. Ketika ajaran Wahabi mulai menggeliat di jazirah Arab yang dampaknya terasa di kawasan Nusantara, Kiai Asnawi tidak tinggal diam. Beliau memperjuangkan ajaran ahlus sunnah wal-jamaah agar berakar kuat di negeri ini. Kiai Asnawi didelegasikan oleh komunitas kiai, yang dipimpin oleh Kiai Wahab Chasbullah untuk mengupayakan strategi diplomatik, dalam rangka menggagalkan pembongkaran kuburan Nabi Muhammad.

Kiai Asnawi wafat pada usia 98 tahun, tepatnya pada 25 Jumadil Akhir 1378 H/26 Desember 1959 M. Kiai Asnawi menjadi salah satu poros keilmuan, aktifisme, dan keteladanan bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya. Beliau mempopulerkan shalawat, yang kemudian dikenal sebagai “Shalawat Asnawiyyah”, yang sampai sekarang sering dibaca di majelis-majelis kaum santri di pelbagai daerah.

Prinsip perjuangan dan istiqomah dalam mengajar menjadi teladan hikmah Kiai Asnawi. Pengajian umum Sanganan di Masjid Agung Kauman Wetan Kudus dan Majelis Pitulasan di Majelis al-Aqsha Kudus, merupakan warisan pembelajaran Kiai Asnawi, yang sampai sekarang masih berjalan.
________________________

Oleh: Munawir Aziz, peneliti, editor penerbitan dan Wakil Sekretaris LTN PBNU (Twitter: @MunawirAziz)

Sumber : NU ONLINE

Selasa, 13 Agustus 2019

KH.Abdurrahman Wahid: Ulama',Pemimpin,dan Guru Bangsa



Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1940. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Adakhil yang berarti sang penakluk. Karena kata “Adakhil” tidak cukup dikenal, maka diganti dengan nama “Wahid” yang kemudian lebih dikenal dengan Gus Dur. Gus adalah panggilan kehormatan khas Pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti “abang atau mas”.

Gus Dur adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ia lahir dari keluarga yang cukup terhormat. Kakek dari ayahnya, K.H. Hasyim Asyari, merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sementara itu kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayahnya K.H. Wahid Hasyim merupakan sosok yang terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949, sedangkan ibunya Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denayar Jombang.

Gus Dur pernah menyatakan secara terbuka bahwa ia adalah keturunan TiongHoa dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan a Lok, yang merupakan saudara kandung dari Raden Patah (Tan Eng Hwa) yang merupakan pendiri kesultanan Demak. Tan a Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Puteri Campa yang merupakan Puteri Tiongkok yaitu selir Raden Brawijaya V. Berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis Louis Charles Damais, Tan Kim Han diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al Shini yang makamnya ditemukan di Trowulan.

 Pada tahun 1944 Abdurrahman Wahid pindah dari kota asalnya Jombang menuju Jakarta, karena pada saat itu ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia yang biasa disingkat “Masyumi”. Masyumi adalah sebuah organisasi dukungan dari tentara Jepang yang pada saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang mempertahankan kedaulatan Indonesia melawan Belanda. Ia kembali ke Jakarta pada akhir perang tahun 1949 karena ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama.

 Gus Dur menempuh ilmu di Jakarta dengan masuk ke SD Kris sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Pada tahun 1952 ayahnya sudah tidak menjadi Menteri Agama tetapi beliau tetap tinggal di Jakarta. Pada tahun 1953 di bulan April ayah Gus Dur meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Pada tahun 1954 pendidikannya berlanjut dengan masuk ke sekolah menengah pertama, yang pada saat itu ia tidak naik kelas. Lalu ibunya mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan.

 Setelah lulus dari SMP pada tahun 1957, Gus Dur memulai pendidikan muslim di sebuah Pesantren yang bernama Pesantren Tegalrejo di Kota Magelang. Pada tahun 1959 ia pindah ke Pesantren Tambakberas di Kota Jombang. Sementara melanjutkan pendidikanya, ia juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai seorang guru yang nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.  Bahkan ia juga bekerja sebagai jurnalis Majalah Horizon serta Majalah Budaya Jaya.

 Pada tahun 1963, ia menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk melanjutkan pendidikan di  Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Ia pergi ke Mesir pada November tahun 1963. Universitas memberitahu Gus Dur untuk mengambil kelas remedial sebelum belajar bahasa Arab dan belajar islam. Meskipun mahir berbahasa Arab, ia tidak mampu memberikan bukti bahwa sesungguhnya ia mahir berbahasa Arab. Ia pun terpaksa harus mengambil kelas remedial.

Pada tahun 1964 Gus Dur sangat menikmati kehidupannya di Mesir.  Ia menikmati hidup dengan menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menikmati menonton sepakbola. Gus Dur juga terlibat dengan Asosiasi  Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah dari asosiasi tersebut. Akhirnya ia berhasil lulus dari kelas remedialnya pada akhir tahun. Pada tahun 1965 ia memulai belajar ilmu Islam dan juga bahasa Arab. Namun Gus Dur kecewa dan menolak metode belajar dari universitas karena ia telah mempelajari ilmu yang diberikan.

Di Mesir, Gus Dur bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Namun pada saat ia bekerja peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S) terjadi. Upaya pemberantasan komunis dilakukan di Jakarta dan yang menangani saat itu adalah Mayor Jendral Suharto. Sebagai bagian dari upaya tersebut.  Gus Dur diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Ia menerima perintah yang ditugaskan menulis laporan.

 Akhirnya ia mengalami kegagalan di Mesir. Hal ini terjadi karena Gus Dur tidak setuju akan metode pendidikan di universitas dan pekerjaannya setelah G 30 S sangat mengganggu dirinya. Pada tahun 1966 ia harus mengulang pendidikannya. Namun pendidikan pasca sarjana Gus Dur diselamatkan oleh beasiswa di Universitas Baghdad. Akhirnya ia pindah menuju Irak dan menikmati lingkungan barunya. Meskipun pada awalnya ia lalai, namun ia dengan cepat belajar. Gus Dur juga meneruskan keterlibatannya dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan sebagai penulis majalah Asosiasi tersebut.

 Pada tahun 1970 ia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad. Setelah itu, Gus Dur ke Belanda untuk meneruskan pendidikan. Ia ingin belajar di Universitas Leiden, namun ia kecewa karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas tersebut. Akhirnya ia pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1971.

 Di Jakarta, Gus Dur berharap akan kembali ke luar negeri untuk belajar di Universitas McGill di Kanada. Ia pun bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Organisasi ini terdiri dari kaum intelektual  muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah yang bernama Prima dan Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Beliau berkeliling pesantren di seluruh Jawa.

 Pada saat itu pesantren berusaha keras untuk mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan mengadopsi kurikulum pemerintah. Karena nilai-nilai pesantren semakin luntur akibat perubahan ini, Gus Dur pun prihatin dengan kondisi tersebut. Ia juga prihatin akan kemiskinan yang melanda pesantren yang ia lihat. Melihat kondisi tersebut Gus Dur membatalkan belajar ke luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Akhirnya ia meneruskan kariernya sebagai seorang jurnalis pada Majalah Tempo dan Koran Kompas. Tulisannya dapat diterima dengan baik. Ia mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan itu ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan seminar sehingga membuatnya sering pulang dan pergi antara Jakarta dan Jombang.

 Meskipun kariernya bisa meraih kesuksesan namun ia masih merasa sulit hidup karena hanya memiliki satu sumber pencaharian. Ia pun bekerja kembali dengan profesi berbeda untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual  kacang dan mengantarkan es. Pada tahun 1974 ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng hingga tahun 1980. Pada tahun 1980 ia menjabat sebagai seorang Katib Awwal PBNU hingga pada tahun 1984. Pada tahun 1984 ia naik pangkat sebagai Ketua Dewan Tanfidz PBNU. Tahun 1987 Gus Dur menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia. Pada tahun 1989 kariernya pun meningkat dengan menjadi seorang anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI. Dan hingga akhirnya pada tahun 1999 sampai 2001 ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

 Sebagai seorang Presiden RI, Gus Dur memiliki pendekatan-pendekatan yang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan bangsa. Ia melakukan pendekatan yang lebih simpatik kepada kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengayomi etnis Tionghoa , meminta maaf kepada keluarga PKI yang mati dan disiksa, dan lain-lain. Selain itu, Gus Dur juga dikenal sering melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial, yang salah satunya adalah mengatakan bahwa anggota MPR RI seperti anak TK.

 Hanya sekitar 20 bulan Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI. Musuh-musuh politiknya memanfaatkan benar kasus Bulloggate dan Bruneigate untuk menggoyang kepemimpinannya. Belum lagi hubungan yang tidak harmonis dengan TNI, Partai Golkar, dan elite politik lainnya. Gus Dur sendiri sempat mengeluarkan dekrit yang berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun dekrit tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli 2001, MPR secara resmi memberhentikan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.

 Sebelumnya, pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.

Setelah berhenti menjabat sebagai presiden, Gus Dur tidak berhenti untuk melanjutkan karier dan perjuangannya. Pada tahun 2002 ia menjabat sebagai penasihat Solidaritas Korban Pelanggaran HAM. Dan pada tahun 2003, Gus Dur menjabat sebagai Penasihat pada Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional.

 Tahun 2004, Gus Dur kembali berupaya untuk menjadi Presiden RI. Namun keinginan ini kandas karena ia tidak lolos pemeriksaan kesehatan oleh Komisi Pemilihan Umum.  Pada Agustus 2005 Gus Dur menjadi salah satu pimpinan koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Tri Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

 Pada tahun 2009 Gus Dur menderita beberapa penyakit. Bahkan sejak ia menjabat sebagai presiden, ia menderita gangguan penglihatan sehingga surat dan buku seringkali dibacakan atau jika saat menulis seringkali juga dituliskan. Ia mendapatkan serangan stroke, diabetes, dan gangguan ginjal. Akhirnya Gus Dur pun pergi menghadap sang khalik (meninggal dunia) pada hari Rabu 30 Desember 2009 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada pukul 18.45 WIB.

PENDIDIKAN

1957-1959 Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah

1959-1963 Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur

1964-1966 Al Azhar University, Cairo, Mesir, Fakultas Syari'ah (Kulliyah al-Syari'ah)

1966-1970 Universitas Baghdad, Irak, Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab

KARIR

1972-1974 Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Ashari, Jombang, sebagai Dekan dan Dosen

1974-1980 Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng

1980-1984 Katib Awwal PBNU

1984-2000 Ketua Dewan Tanfidz PBNU

1987-1992 Ketua Majelis Ulama Indonesia

1989-1993 Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI

1998 Partai Kebangkitan Bangsa, Indonesia, Ketua Dewan Syura DPP PKB

1999-2001 Presiden Republik Indonesia

2000 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Mustasyar

2002 Rektor Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Indonesia

2004 Pendiri The WAHID Institute, Indonesia

PENGHARGAAN

2010 Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010

2010 Bapak Ombudsman Indonesia oleh Ombudsman RI

2010 Tokoh Pendidikan oleh Ikatan Pelajar Nadhlatul Ulama (IPNU)

2010 Mahendradatta Award 2010 oleh Universitas Mahendradatta, Denpasar, Bali

2010 Ketua Dewan Syuro Akbar PKB oleh PKB Yenny Wahid

2010 Bintang Mahaguru oleh DPP PKB Muhaimin Iskandar

2008 Penghargaan sebagai tokoh pluralisme oleh Simon Wiesenthal Center

2006 Tasrif Award oleh Aliansi Jurnanlis Independen (AJI)

2004 Didaulat sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang

2004 Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta, Indonesia

2004 The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia

2003 Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat

2003 World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan

2003 Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris "Dare to Fail", Kuala Lumpur, Malaysia

2002Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Indonesia.

2002 Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

2001 Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat

2000 Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat

2000 Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International

1998 Man of The Year, Majalah REM, Indonesia

1993 Magsaysay Award, Manila , Filipina

1991 Islamic Missionary Award , Pemerintah Mesir

1990 Tokoh 1990, Majalah Editor, Indonesia

Doktor Kehormatan:

Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)

Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000

Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis (2000)

Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000)

Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000)

Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000)

Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002)

Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003)

Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003)

Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003)

Ihya'ussunnah Assaniyyah


 Ihya'ussunnah Assaniyyah awalnya adalah musholla, yg disebut langgar wetan, yang merupakan Musholla ke 3 di desa loram kulon. Kemudian oleh KH. M. Masyhuri bin KH. Abdul Ghoni sekitar tahun 1950an. Pondok ini menyatu dengan Musholla Ihya’ussunnah yang sudah berdiri puluhan tahun sebelumnya.

    Pondok ini kemudian dibangun dan diteruskan oleh kakak Kiai Masyhuri yang juga petinggi pertama desa Loram Kulon, yaitu KH. M. Ihsan beserta kedua anaknya, KH. M. Najib dan KH. M. Tholhah. Selain ngaji pondok, di musholla ini juga menyelenggarakan Sekolah Arab Miftahul Ulum yang bertempat di langgar dan paseban (balai desa) petinggi. Sekolah ini menjadi cikal bakal madrasah yang ada, yang dikembangkan di kemudian hari bersama tokoh masyarakat dan ulama setempat.

    Musholla ini juga menjadi pusat organisasi kepemudaan di daerah Jati seperti IPNU dan GP. Anshor. Setelah wafatnya KH. M. Tholhah dan KH. M. Ihsan dan kemudian KH. M. Najib, ngaji di langgar dilanjutkan oleh Kiai Musta’in Sahal bin H. Ahsin dan beberapa waktu kemudian oleh Kiai M. Liwauddin dan Ustadz M. Ishlahul Umam, Ustadz M. In’amullah dan Ustadz M. Abul Fadhli. Telah banyak alumninya yang menjadi kiai, tokoh masyarakat, dosen, guru, pengusaha, dan orang yang bermanfaat bagi orang lain.


KH.Sanusi Ali Mbareng :Seorang Kyai Wali

    Beliau adalah KH. Sanusi yg dimakamkan diselatan Masjid Kauman Jekulo. KH. Sanusi  dilahirkan dari pasangan Bapak Ya’qub dan Ibu Sarijah. Saat hidupnya beliau lebih di kenal dengan sebutan H. Sanusi Ali, namun keterangan lain nama Ali tersebut bukan nama asli melainkan laqob atau nama panggilan yg berasal dari istilah Sanusi Kulon Kali, Lalu anak-anak kecil sering menyebutnya dengan menyingkat Mbah Sanusi Kulon kali menjadi Mbah sanusi Ali.Mungkin karena  memang beliau mempunyai dua rumah, satu di dukuh Kauman yang  berada di timur sungai Logung dan yg satunya lagi berada di sebelah barat sungai Logung, lebih tepatnya di utara pasar mbareng lama,  di dukuh Tambak jaya.



    Beliau mbah sanusi Ali yang sering melakukan laku sulik riyadloh pada masa remajanya ini memang mempunya banyak karomah.

    Seperti kebanyakan para wali lainnya, beliau memulainya dengan suluk dan riyadloh. Pada masa remaja, beliau melakukan riyadloh dengan bertapa selama 40 hari tanpa bekal di puncak Argo Jimbangan, salah satu puncak yg berada di gunung Muria. Jika kita lihat dari bawah, Argo Jimbangan adalah gugusan paling timur dari deretan gugusan gunung Muria. Di sanalah Mbah Sanusi melakukan riyadloh, untuk menemukan rasa ing jati, rasa ing rasa, yaitu makrifat kepada Allah dengan cara mengenali diri sendiri.

    Selama khalwat di puncak Argo Jimbangan, setiap lima waktu beliau selalu didatangi seekor macan, tapi bukan hendak memangsa beliau, melainkan membawakan bumbung bambu yg berisikan air untuk berwudlu. Maka setelah genap empat puluh hari beliau pun turun dan pulang ke rumah. Tatkala beliau pulang ini, ada cerita lucu. Tatkala itu, ibu Mbah Sanusi sedang menimba dengan menggunakan senggot, tiba-tiba saja senggot tsb terasa berat hingga ibu beliu tak mampu mengangkatnya. Si ibu pun berteriak-teriak minta tolong. Mengetahui hal itu Mbah Sanusi pun menampakkan diri dan berkata, "aku seng ganduli mbok", ternyata Mbah Sanusi yg tadi tidak menampakkan diri sambil memegangi senggot, bermaksud memamerkan kesaktian sekaligus bercanda dgn ibunya.

    Sebagai seorang pemuka agama di desa Jekulo dan sebagai rujukan kyai setempat, terutama KH. Yasin, mertua sekaligus paman KH. Muhammadun Pondowan. Beliau juga mempunyai hubungan batin yang erat dgn Kiai Zubair Sarang Rembang. Sebagaimana yang diceritakan oleh bapak Ah. Saiq dari keterangan Kiai Muhammad. Bahwa Mbah Sanusi sering melakukan telekomunikasi batin dengan Kiai Zubair. Namun mengenai yang dibicarakan mereka berdua tidak ada keterangan yangg jelas. Tatkala KH. Hasyim As'ari hendak meminta ijin ke Habib Hasyim Pekalongan beliau juga bersinggah di waliyulloh Mbah Sanusi, sebelum akhirnya beliau mengantarkan Kiai Hasyim ke rumah Mbah Raden Asnawi Kudus. Dari cerita ini bisa ditarik kesimpulan bahwa beliau juga mempunyai hubungan yang erat dengan ulama-ulama di tanah jawa. Namun pada suatu ketika beliau ditanya oleh Kiai R. Asnawi, "mengapa NU tidak berkembang di Jekulo?" beliau tersenyum dan menjawab, "jarke mawon. malah seng sae ngoten." Mungkin karena ucapan beliau inilah pada akhirnya Kiai-kiai di Jekulo jarang ikut organisasi.

    Sebagaimana yg diriwayatkan oleh Almarhum Kiai Muhammad; Pernah suatu pagi Simbah Sanusi menyapu di depan langgar (Musholla), diam menunduk, hanya tangannya saja yg bergerak-gerak. tatkala KH Yasin yg merupakan murid beliau sowan, beliau berkata bahwa td Beliau itu sedang membantu seorang di Malang jawa timur.
    
    Pada kesempatan lain, tatkala Kh Yasin sowan ke rumah Simbah Sanusi di pagi hari, KH Yasin disuguhi Nasi Samin yg masih hangat oleh Mbah Sanusi. Meliahat suguhan itu Kiai Yasin bertanya dgn dialek jawa, “Nasi Samin yg penuh Daging tsb berasal dari mana??” Mbah Sanusi menjawab dgn bahasa jawa, “Itu lho tadi Jam setengah enam pagi aku dapat undangan di Mekah” kemudian Kiai Yasin Menimpali, “waktu aku Haji, kebanyakan Nasi di mekah memang Nasi Samin”. Padahal pagi itu beliau masih di Jekulo.
Simbah Sanusi tergolong Auliya’ yg sering memperlihatkan Keramatnya. Sehingga keramat beliau terlalu banyak untuk dapat diceritakan. Seorang Kiai berkata bahwa keramat Mbah Sanusi tidak ubahnya keramat Sheikh Abdul Qadir Al Jaelani, hanya saja yg membedakan, kalau Sheikh Abdul Qadir adalah Sulthonul Auliya’.
    
    Diantara keramatnya lagi, Beliau pernah bepergian ke sebelah selatan baratnya kota Jogjakarta, iaitu di daerah Laut Selatan. Di laut tersebut terdapat Masjid Nabi Khidlir a.s yg terliahat oleh Simbah Sanusi. beliau memasuki Masjid tsb, kemudian Masjid tadi tenggelam ke dasar laut. Dan anehnya setelah keluar, tubuh beliau sama sekali tak basah. Diriwayatkan, sebentar setelah kejadian tsb, beliau Simbah Sanusi mendapat Anugerah dari Allah berupa Kembang Jaya Sampurna, yg berupa kayu, dan barang siapa membawanya jadi mempunyai kedudukan sebagaimana para ratu. Jadi tak heran, saat Bupati Kudus sakit, si bupati menyuruh abdi dalemnya untuk memohon Obat kepada Mbah Sanusi. Dan oleh Mbah Sanusi diberi satu keping uang godem. beliau menyuruh agar uang tsb diremdam dlm air, kemudian air tsb diminum. Setelah mengikuti anjuran beliau, alhamdulillah Allah menyembuhkan sakit si Bupati. Seperti yg diceritakan Kiai Muhammadun Pondowan.

    Kiranya cukup sedikit cerita tentang keramat beliau. Agar kiranya cerita tersebut dapat menambahkan keyakinan dalam hati kita. Seperti firman Allah dalam surat Hud Ayat 120; wakullan Naqusshu ‘Alaika min Anbaai arrusuli ma nutsabbitu bihi fuadak, ila akhiril ayat. Imam Sya’roni berkata dlm kitabnya, “bahwasannya Iman terhadap keramat para wali adalah Wajib dan Haq. Setiap keramat para Auliya’ adalah bukti mukjizat para Nabinya. Jadi keramat Auliya’ Muhammad Shalallah alaihi wa sallam adalah bagian dari Mukjizat yg menunjukkan kebenaran beliau dan sahnya Agama beliau saw”.

    Adapun silsilah Beliau adalah sebagai berikut ini:
:: Waliyulloh Mbah Sanusi
:: Bin Ky. Ya’qub di Makamkan di Gili Tenggeles :: Bin Raden Mas Hadi Kesumo (KH. Abdur Rohman makamnya di Ngembalrejo Kudus)
:: Bin Raden Mas Sumo Hadiwijoyo, makamnya di Mlati Kudus.
:: Bin Raden Mas Tumenggung Adipati Hadi Kesumo Nengrat.
:: Bin Raden Mas Tumenggung Adipati Surya Kesumo Mejobo Kudus.

    Silsilah beliau Simbah Sanusai sampai kepada Waliyulloh Abdur Rahman Ba’abud yg lebih dikenal dengan nama Amangkurat Mas II, Tegal Arum. Raden Amangkurat Mas merupakan salah satu keluarga Kerathon Surakarta yg mengasingkan diri dari pemerintahan.

    Tuan guru beliau diantaranya adalah Habib Nuh Bin Muhammad Al Habsyi Singgapura, Kiai Iskandar Banyumas dan para Ulama di Mekah. Kami belum dapat keterangan yg lebih detail tentang Guru-guru beliau.
   
     Diantara murid-murid beliau adalah KH. Yasir, KH Yasin dan KH Dahlan, ketiganya adalah Ulama’ setempat di daerah Jekulo. Juga KH. Muhammadun Pondowan Tayu Pati. Beliau KH Muhammadun ber-baiat Thariqah Naqsabandiyyah pada Simbah Sanusi dengan baiat khusus, dan oleh Simbah Sanusi KH Muhammadun dipesan agar tak mengijazahkan kepada sembarang orang.
    
    Begitulah kira-kira sepenggal Biografi tentang Waliyulloh Mbah Sanusi. Haul beliau diadakan pada Malam hari setelah Isya’ oleh Masyarakat dan keturunan beliau, setiap Tanggal 18 Syawal.

    Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, dan memasukkan beliau kedalam Surga bersama Syuhada’ Shalihin dan Anbiya’ di ‘Illiyyin, surga yg tinggi, dengan Anugerah dan RahmatNya. Dan semoga berkah beliau sampai juga kepada Kita semua. Amin
    
    Dan itulah tadi kramat yang dimiliki oleh KH Sanusi Ali bserta keramat-keramatnya semoga kita dapat di berikan keberkahan oleh Allah

Sumber:DISINI

Sabtu, 10 Agustus 2019

Mimpi Mbah Moen tentang Gus Dur


 
    Mungkin beberapa waktu yang silam kita melihat hubungan KH. Maimoen Zubair (Rembang) dengan keluarga Gus Dur (Ciganjur) biasa-biasa saja. Bahkan ada yang menilai ini sebuah kekurang harmonisan, KH. Maimoen Zubair dianggap tokoh yang bertentangan dengan Gus Dur. Tapi itu kurang tepat, karena justru akhir-akhir ini Mbah Mun (sapaan akrab KH. Maimoen Zubair) justru terlihat sangat dekat dengan keluarga Ciganjur. Gus Syukron Abyne Maysun menceritakan dari Gus Fahim Mulabbi bin KH. Muharror Ali Kaliwangan Blora,murid Mbah KH. Arwani Kudus.
    
    Beberapa hari yang lalu, tepatnya malam Jum’at, ada salah seorang murid pergi sowan ke ndalem gurunya, Mbah KH. Maimoen Zuber, di Rembang. Seperti biasanya, sang tamu pun diajak ngobrol oleh tuan rumahnya. Obrolan guru dengan murid. Di sela-sela ngobrol itulah Mbah KH.Maimoen Zuber bercerita bahwa beliau bermimpi shalat berjamaah menjadi makmum. Hadhratus Syaikh Mbah KH. Hasyim Asy’ari juga ikut menjadi makmum. Sedangkan yang menjadi imam dalam shalat tersebut adalah KH. Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. 
    
    Dulu pun, saat ICMI di awal-awal perintisan, Mbah Moen pernah ditawari untuk masuk ke dalamnya. Karena beliau termasuk kiai yang multitalenta dalam pandangan banyak pihak, bukan saja dari kalangan sesama kiai. Keberadaan ICMI secara tersirat tidak dikehendaki oleh Mbah Mun, sama seperti Gus Dur.“Aku ini tidak pernah setuju dengan Gus Dur”, kata KH. Maimun Zubair. “Yah... namanya manusia. Tapi aku tidak berani membenci, apalagi memusuhinya. Takut kuwalat!” Kenyataannya, tidak seratus persen Mbah Maimun berseberangan dengan Gus Dur. 
    
    Ketika suatu kali seorang tokoh intelektual datang jauh-jauh dari jakarta untuk mengajak beliau masuk ICMI, Mbah Maimun menolak. “Pak Kiai ini intelektual yang mumpuni lho”, katasi tokoh, “cocok sekali kalau masuk ICMI!”“Ah, saya cukup Nahdlatul Ulama saja, gabung rombongannya pewaris nabi.” kata Mbah Mun.“Memangnya di ICMI nggak bisa?”“Kan nggak ada hadits al-ICMI waratsatul anbiya’. Kalau al-Ulama'ada!” kata Mbah Mun.

    Bahkan kalau kita kembali mengingat saat prosesi pemakaman Gus Dur, dugaan ketidakharmonisan Mbah Mun dengan Gus Dur (keluarga Ciganjur) jelas meleset. Karena nyatanya sebelum jenazah Gus Dur dimasukkan ke liang lahat dan dilakukan upacara kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Presiden SBY, usai itu KH. Maimun Zubair lah yang diberi kesempatan memerikasa jenazah Gus Dur. Dan barulah jasad Gus Dur dikeluarkan dari peti jenazah dan secara perlahan dimasukkan ke liang lahat. 

Wallahu al-Musta’an A’lam.

Mengenal kitab Faraidl As-Saniyyah Wa Ad-Durar Al-Bahiyyah: Kitab Hujjah Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Di Indonesia pada dekade 60 sampai 70-an, muncul gerakan-gerakan anti adat dan penolakan atas kulturisasi agama dengan alasan bertentangan ...